HARI ANAK NASIONAL (HAN)
[ PC-15 Share ]
Oleh : Saefullah (0115019)
Peserta Perintis Challenge 2015
[ PC-15 Share ]
Oleh : Saefullah (0115019)
Peserta Perintis Challenge 2015
Aku rindu masa-masa kecil dulu. Masa-masa yang telah lama aku tinggalkan. Masa kecil yang penuh kenangan, menyenangkan, karena yang menyakitkan tak pernah mau ku kenang, atau memang sebenarnya tak ada yang menyakitkan. Ah… bagi ku sekarang, semua kisah masa kecil dulu menyenangkan. Saya masih mengangap diri saya sebagai seorang anak, walaupun saya bukan anak-anak lagi. Saya suka menyebut untuk orang-orang seusia saya, atau yang lebih tua adalah anak-anak yang berusia dewasa. Mungkin lebih tepatnya sebagai anak-anak yang berusia matang karena usia tidak menjamin kedewasaan seseorang, bukan?
Situasinya adalah bahwa saat ini saya mungkin tidak menjadi bagian dari anak-anak yang merayakan HAN bersama anak-anak (kecil) lainnya, tapi HAN selalu membuka kembali genggaman memori tentang masa kecil saya, tentang masa kanak-kanak. Saya bersyukur memiliki masa kanak-kanak yang indah dan tidak suram.
Saya dan teman masa kanak-kanak saya, seperti anak-anak pada umumnya (di masa itu), suka main kucing-kucingan (petak umpet), dokter-dokteran, juga permainan tradisional seperti galah, lompat tali (yang terbuat dari untaian tali gelang), congklak, pecle/engklek dan aanjangan (permainan anak perempuan yang menggunakan perabot palsu, seperti kegiatan masak-memasak).
Sambil menulis ini saya tersenyum sendiri, sambil membuka cakrawala masa kecil saya.
Permainan masa kecil juga ternyata melatih kreatifitas anak, beberapa permainan misalnya dokter-dokteran, di dalamnya ada yang berperan sebagai dokter, pasien, orang tua, anak (kadang-kadang pakai boneka), atau ada juga cerita lain misalnya guru dan murid-muridnya. Kreatifitasnya adalah ketika sekumpulan anak-anak yang bermain tanpa disadari belajar membuat skenario lisan untuk permainan mereka, berbagi peran dan belajar seni peran secara alami. Kadang-kadang, untuk membuat terlihat lebih nyata dan wah, anak-anak (diam-diam) menggunakan barang-barang milik orangtuanya, seperti high heels milik ibu, lipstik, sarung, peci, dan jas. Kalau ada peran penjual makanan, tidak jarang pakai dedaunan yang diulek oleh si (pemeran) penjual makanan.
Masa kecil yang telah saya lewati tidak akan terulang. Beberapa tahun ke belakang, saya malah menjadi saksi akan anak-anak kecil kecil dengan permainan Play Station, dan (bahkan) sudah kenal media sosial bernama Facebook sebelum batas usia minimal yang seharusnya untuk bergabung dengan jejaring pertemanan tersebut. Dan, sedihnya saya melihat anak –anak masa kini malah menjadi anak-anak yang (cenderung) anti sosial karena diperkenalkan dengan permainan digital seperti PlayStation, dan malah sejak usia dini sudah diperkenalkan dengan permainan dalam gadget orang tua atau yang dibelikan khusus untuk si anak. Maka, jangan heran bila tidak sedikit anak-anak masa kini asyik dengan permainan dalam jaringan (online). Robek hati saya melihat anak-anak zaman sekarang yang lebih mengenal dan suka menyanyikan lagu-lagu orang dewasa, adanya perkelahian anak yang bahkan berujung kematian, kekerasan fisik terhadap anak dan lainnya. Perlu kita perthatikan anak-anak karena Anak-anak adalah generasi penerus bangsa yang akan datang. Seiring berjalannya waktu, anak-anak akan semakin tumbuh berkembang dan semakin dewasa. Tentulah dalam tumbuh kembangnya, anak-anak akan menghadapi dan melalui banyak hal dalam hidupnya. Oleh sebab itu, sebagai orang tua yang bertanggung jawab terhadap anak harus bisa memenuhi dan menyampaikan hak-hak anak sebagaimana mestinya.
Adapun hak-hak anak yang harus dipenuhi antara lain:
Situasinya adalah bahwa saat ini saya mungkin tidak menjadi bagian dari anak-anak yang merayakan HAN bersama anak-anak (kecil) lainnya, tapi HAN selalu membuka kembali genggaman memori tentang masa kecil saya, tentang masa kanak-kanak. Saya bersyukur memiliki masa kanak-kanak yang indah dan tidak suram.
Saya dan teman masa kanak-kanak saya, seperti anak-anak pada umumnya (di masa itu), suka main kucing-kucingan (petak umpet), dokter-dokteran, juga permainan tradisional seperti galah, lompat tali (yang terbuat dari untaian tali gelang), congklak, pecle/engklek dan aanjangan (permainan anak perempuan yang menggunakan perabot palsu, seperti kegiatan masak-memasak).
Sambil menulis ini saya tersenyum sendiri, sambil membuka cakrawala masa kecil saya.
Permainan masa kecil juga ternyata melatih kreatifitas anak, beberapa permainan misalnya dokter-dokteran, di dalamnya ada yang berperan sebagai dokter, pasien, orang tua, anak (kadang-kadang pakai boneka), atau ada juga cerita lain misalnya guru dan murid-muridnya. Kreatifitasnya adalah ketika sekumpulan anak-anak yang bermain tanpa disadari belajar membuat skenario lisan untuk permainan mereka, berbagi peran dan belajar seni peran secara alami. Kadang-kadang, untuk membuat terlihat lebih nyata dan wah, anak-anak (diam-diam) menggunakan barang-barang milik orangtuanya, seperti high heels milik ibu, lipstik, sarung, peci, dan jas. Kalau ada peran penjual makanan, tidak jarang pakai dedaunan yang diulek oleh si (pemeran) penjual makanan.
Masa kecil yang telah saya lewati tidak akan terulang. Beberapa tahun ke belakang, saya malah menjadi saksi akan anak-anak kecil kecil dengan permainan Play Station, dan (bahkan) sudah kenal media sosial bernama Facebook sebelum batas usia minimal yang seharusnya untuk bergabung dengan jejaring pertemanan tersebut. Dan, sedihnya saya melihat anak –anak masa kini malah menjadi anak-anak yang (cenderung) anti sosial karena diperkenalkan dengan permainan digital seperti PlayStation, dan malah sejak usia dini sudah diperkenalkan dengan permainan dalam gadget orang tua atau yang dibelikan khusus untuk si anak. Maka, jangan heran bila tidak sedikit anak-anak masa kini asyik dengan permainan dalam jaringan (online). Robek hati saya melihat anak-anak zaman sekarang yang lebih mengenal dan suka menyanyikan lagu-lagu orang dewasa, adanya perkelahian anak yang bahkan berujung kematian, kekerasan fisik terhadap anak dan lainnya. Perlu kita perthatikan anak-anak karena Anak-anak adalah generasi penerus bangsa yang akan datang. Seiring berjalannya waktu, anak-anak akan semakin tumbuh berkembang dan semakin dewasa. Tentulah dalam tumbuh kembangnya, anak-anak akan menghadapi dan melalui banyak hal dalam hidupnya. Oleh sebab itu, sebagai orang tua yang bertanggung jawab terhadap anak harus bisa memenuhi dan menyampaikan hak-hak anak sebagaimana mestinya.
Adapun hak-hak anak yang harus dipenuhi antara lain:
1. Mendidik anak dengan baik
Anak jangan sampai dibiarkan berkembang tanpa disertai dengan pendidikan, baik secara formal maupun non formal. Kita sekolahkan mereka di sekolah-sekolah yang di dalamnya diajarkan pula agama Islam. Juga diluar sekolah,anak itu harus dibimbing dan diarahkan menuju kebaikan. Sejak kecil ditanamkan pengertia kepada anak-anak bahwa Tuhan yang wajib disembah adalah Allah, dan Muhammad adalah Rasul Allah yang terakhir. Beliau dilahirkan di Mekah dan di makamkan di Madina. Ajarkan salat kepada anak setelah dia genap berusia tujuh tahun, dan pukullah sebagai pengajaran jika dia meninggalkan salat sementara dia berumur genap sepuluh tahun. Rasulullah Saw. Bersabda:
Anak jangan sampai dibiarkan berkembang tanpa disertai dengan pendidikan, baik secara formal maupun non formal. Kita sekolahkan mereka di sekolah-sekolah yang di dalamnya diajarkan pula agama Islam. Juga diluar sekolah,anak itu harus dibimbing dan diarahkan menuju kebaikan. Sejak kecil ditanamkan pengertia kepada anak-anak bahwa Tuhan yang wajib disembah adalah Allah, dan Muhammad adalah Rasul Allah yang terakhir. Beliau dilahirkan di Mekah dan di makamkan di Madina. Ajarkan salat kepada anak setelah dia genap berusia tujuh tahun, dan pukullah sebagai pengajaran jika dia meninggalkan salat sementara dia berumur genap sepuluh tahun. Rasulullah Saw. Bersabda:
لَأَنْ يُأَدِّبَ الرَّجُلُ وَلَدَهُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَتَصَدَّقَ بِصَاعٍ
Artinya:
“Orang yang mendidik anaknya itu lebih baik baginya daripada ia bersedekah satu sha’ ( beras atau gandum setiap hari).”(HR. Tirmidzi)
Artinya:
“Orang yang mendidik anaknya itu lebih baik baginya daripada ia bersedekah satu sha’ ( beras atau gandum setiap hari).”(HR. Tirmidzi)
2. Memberikan pelajaran budi pekerti yang mulia
Betapa pentingnya budi pekerti yang baik itu bagi seseorang. Jika ada orang ingin dipercaya, dihormati dan berwibawa, maka berbudilah yang baik dan sopan kepada siapa saja yang diajak bergaul. Untuk itu, tugas orang tua kepada anak-anaknya adalah menanamkan budi pekerti yang mulia sejak kecil. Berikan contoh bagaimana semestinya berhadapan dengan orang tua, dengan guru, dengan orang-orang yang lebih tua umurnya daripadanya. Dan bagaimana semestinya bergaul dengan saudara-saudaranya serta dengan teman-temannya. Jangan dibiarkan berlarut-larut anak berbuat kurang ajar. Begitulah tugas orang tua sebagai cerminan rasa kasih sayang kepada anak. Rasulullah Saw. Bersabda:
Betapa pentingnya budi pekerti yang baik itu bagi seseorang. Jika ada orang ingin dipercaya, dihormati dan berwibawa, maka berbudilah yang baik dan sopan kepada siapa saja yang diajak bergaul. Untuk itu, tugas orang tua kepada anak-anaknya adalah menanamkan budi pekerti yang mulia sejak kecil. Berikan contoh bagaimana semestinya berhadapan dengan orang tua, dengan guru, dengan orang-orang yang lebih tua umurnya daripadanya. Dan bagaimana semestinya bergaul dengan saudara-saudaranya serta dengan teman-temannya. Jangan dibiarkan berlarut-larut anak berbuat kurang ajar. Begitulah tugas orang tua sebagai cerminan rasa kasih sayang kepada anak. Rasulullah Saw. Bersabda:
مَانَحَلَ وَالِدٌ وَلَدًا مِنْ نَحِلٍ أَفْضَلَ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ
Artinya:
“Tidak ada pemberian orang tua kepada anak yang lebih utama daripada budi pekerti yang baik.”(HR. Tirmidzi)
Artinya:
“Tidak ada pemberian orang tua kepada anak yang lebih utama daripada budi pekerti yang baik.”(HR. Tirmidzi)
3. Mengajarkan kepada anak segala sesuatu yang bisa memberi manfaat kepada agamanya, tanah airnya dan sumber penghidupannya.
Tidak mungkin orang tua akan kuat memegang agamanya kalau dia tadak di didik masalah-masalah agama sejak kecil. Bilamana anak sejak kecil sudah diajari dan dibiasakan menjalankan kewajiban agama, sudah barang tentu dia akan teguh melaksanakan tugas kewajiban agamanya, meskipun dalam keadaan terjepit. Itulah sebabnya maka luqman tidak henti-hentinya menasehati anaknya agar tetap menjalankan salat dan amar ma’ruf nahi munkar. Allah telah berfirman di dalam surat Luqman ayat 17:
Tidak mungkin orang tua akan kuat memegang agamanya kalau dia tadak di didik masalah-masalah agama sejak kecil. Bilamana anak sejak kecil sudah diajari dan dibiasakan menjalankan kewajiban agama, sudah barang tentu dia akan teguh melaksanakan tugas kewajiban agamanya, meskipun dalam keadaan terjepit. Itulah sebabnya maka luqman tidak henti-hentinya menasehati anaknya agar tetap menjalankan salat dan amar ma’ruf nahi munkar. Allah telah berfirman di dalam surat Luqman ayat 17:
يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأمُورِ
Artinya:
“Wahai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah(manusia) mengarjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkat dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itutermasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”
Artinya:
“Wahai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah(manusia) mengarjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkat dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itutermasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”
Sudahkah kita turut andil dalam mengawasi dan berkontribusi untuk perkembangan positif anak-anak tersebut agar menjadi generasi yang lebih baik? Anak-anak bangsa yang berlomba dengan zaman yang terus berkembang adalah juga tanggung jawab kita bersama selain pemerintah. Menjadi contoh teladan dalam menghargai budaya bangsa dan sikap laku adalah hal paling sederhana yang bisa kita perbuat. Selain itu, tentu saja banyak hal yang bisa kita lakukan demi kemajuan anak-anak bangsa. Contoh sederhana seperti menjadi teman “curhat”, bermain bersama, bersentuhan langsung, menyediakan waktu, membacakan cerita untuk anak adalah hal-hal kecil yang semua orang bisa lakukan dan disukai anak.
Perhatian terbesar dan Hadiah terbaik kepada anak bukan dengan memberikan materi, barang atau membuat kebijakan, tetapi memberikan waktu untuk selalu dekat dengan mereka.
Selamat Ulang Tahun Anak Indonesia !
Perhatian terbesar dan Hadiah terbaik kepada anak bukan dengan memberikan materi, barang atau membuat kebijakan, tetapi memberikan waktu untuk selalu dekat dengan mereka.
Selamat Ulang Tahun Anak Indonesia !
©published by : PC super tim ! smile emotikon
---www.kitagerak.com---
---www.kitagerak.com---
kita gerak 10:21 AM 0 comments Kemah Kita 2015 What is Kemah Kita? Kemah Kita dengan tema “Menginspirasi Bersama” yang diselenggarakan pada tah... Posted by kita gerak at 10:21 AM 0 comments Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to Facebook
KITAGERAK.COM

No comments:
Post a Comment
Sebaik-baiknya Manusia ialah yang meninggalkan jejak.
Krtitikan dan masukan anda bermanfaat bagi blog ini.