BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Pada masa Dinasti Abbasiyah yang
berpusat di Baghdad, Islam mencapai puncak keemasanya. Dalam wilayah dan
pemerintahan Islam itu banyak berhimpun
suku-suku bangsa non-arab, diantaranya
yang terbesar di Persia dan Turki. Kota
Baghdad didirikan oleh kalifah
Abbasiyah kedua, al Manshur (754-755). Pada tahun 762M. Setelah
mencari-cari daerah yang sekarang di namakan Baghdad, yang terletak di pinggir
sungai Tigris. Al-Manshur menugaskan beberapa orang ahli untuk meneliti dan
mempelajari lokasi yang akan dijadikan ibu kota. Setelah penelitian seksama
itulah daerah ini ditetapkan sebagai ibu kota.
Pendirian kota Baghdad melambangkan
upaya Abbasiyah untuk tetap
berkuasa diatas berbagai
permasalahan yang menimpa dan bahkan telah
menghancurkan dinasti Umayyah, untuk tetap berkuasa di tengah sejumlah
problem tersebut, dinasti Abbasiyah menghilangkan supremasi kasta
Arab dan
menerapkan prinsip universalitas di kalangan
ummat muslim.
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
Bagaimana periodesasi masa Abbasiyah?
2.
Apa saja kemajuan pada masa Abbasiyah?
3.
Apa saja penyebab kehancuran dinasti Abbasiyah?
C.
TUJUAN PENULISAN
1.
Menerangkan tentang periodisasi masa Abbasiyah
2.
Menerangkan beberapa kemajuan pada masa Abbasiyah
3.
Menerangkan penyebab-penyebab kehancuran dinasti
Abbasiyah.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PERIODESASI
MASA ABBASIYAH
Para sejarawan mengklasifikasi periode Abbasiyah berbeda-beda. Al-Khudri,
Guru Besar Ilmu Sejarah dari Universitas Mesir (Egyptian University)
membagi ke dalam lima masa, yaitu:
1. masa kuat-kuasa dan bekerja membangun,
berjalan 100 tahun lama-nya, dari 132 s.d. 232 H.;
2. masa berkuasanya panglima-panglima Turki,
berjalan 100 tahun lama-nya, dari 232 s.d. 334 H.:
3. masa berkuasanya Bani Buyah (Buwayhid),
berjalan 100 tahun lama-nya. dari 334 s.d. 447 H.;
4. masa berkuasanya Bani Saljuk (Seljuqiyak),
berjalan 100 tahun lama-nya, dari 447 s.d. 530 H.;
5. masa gerak balik kekuasaan politik
khalifah-khalifah Abbasiyah dengan merajalelanya para panglima perang, selama
125 tahun, dari 530 H. sampai musnahnya Abbasiyah di bawah serbuan Jengiz Khan
dan putranya Hulagu Khan dari Tartar pada tahun 656 H.
Menurut B.G. Stryzewki membagi masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah menjadi
lima periode, yaitu:
1. periode pertama (132 H./750 M. s.d. 232 H./847
M.), disebut periode pengaruh Persia Pertama;
2. periode kedua (232 H./847 M. s.d. 334 H./945
M.), disebut periode pengaruh Turki Pertama;
3. periode ketiga (334 H./945 M. s.d. 447 H./1105
M.), masa kekuasaan Dinasti Buwaihi dalam pemerintahan Khalifah Abbasiyah.
Periode ini disebut juga pengaruh Persia Kedua;
4. periode keempat (447 H./1105 M. s.d. 590
H./1195 M.), masa kekuasaan Dinasti Sajuk yang biasa disebut dengan masa pengaruh
Turki Kedua;
5. periode kelima (590 H./1194 M. s.d. 656
H./1258 M.), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi
kekuasaannya hanya efektif di Baghdad.
Kedua pola periodesasi di atas, pada dasarnya sama dan tidak signifikan.
Untuk memudahkan pembahasan, periode Abbasiyah dibagi menjadi empat tahap,
yaitu pendirian, kemajuan, kemunduran, dan kehancuran.
B. PENDIRIAN BANI
ABBASIYAH (750-857 M./132-232 H.)
Babak ketiga dalam drama besar politik Islam dibuka oleh Abu Al-Abbas
(750-754) berperan sebagai pelopor. Irak menjadi panggung drama besar itu.
Dalam khotbah penobatannya, yang disampaikan setahun sebelumnya di masjid
Kufah, Khalifah Abbasiyah pertama itu menyebut dirinya as-saffih,
penumpah darah, yang kemudian menjadi julukannya. Julukan itu merupakan
pertanda buruk karena dinasti yang baru muncul ini mengisyaratkan bahwa mereka
lebih mengutamakan kekuatan dalam menjalankan kebijakannya. Untuk pertama kalinya
dalam sejarah Islam, di sisi singgasana khalifah tergelar karpet yang digunakan
sebagai tempat eksekusi. As-Saffah menjadi pendiri dinasti Arab Islam
ketiga setelah Khulafa Ar-Rasyidin dan Dinasti Umayah yang sangat besar dan
berusia lama. Dari 750 M. hingga 1258 M., penerus Abu Al-Abbas memegang pemerintahan,
meskipun mereka tidak selalu berkuasa. Orang Abbasiyah mengklaim dirinya
sebagai pengusung konsep sejati kekhalifahan, yaitu gagasan negara teokrasi,
yang menggantikan pemerintahan sekuler (mulk) Dinasti Umayah. Sebagai
ciri khas keagamaan dalam istana kerajaannya, dalam berbagai kesempatan
seremonial, seperti ketika dinobatkan sebagai khalifah dan pada shalat Jumat,
khalifah mengenakan jubah (burdah) yang pernah dikenakan oleh saudara
sepupunya, Nabi Muhammad. Akan tetapi masa pemerintahannya, begitu singkat.
As-Saffah meninggal (754-775 M.) karena penyakit cacar air ketika berusia
30-an.
Saudaranya yang juga penerusnya, Abu Ja'far (754-775), yang mendapat julukan
Al-Manshur adalah khalifah terbesar Dinasti Abbasiyah. Meskipun bukan seorang
muslim yang saleh, dialah sebenarnya, bukan As-Saffah, yang benar-benar
membangun dinasti baru itu. Seluruh khalifah yang berjumlah 35 orang berasal
dari garis keturunannya.
Masa kejayaan Abbasiyah terletak pada khalifah setelah As-Saffah. Penulis
mengutip Philip K. Hitty, bahwa masa keemasan (Golden Prime) Abbasiyah
terletak pada 10 khalifah. Hal ini berbeda dengan Badri Yatim, yang memasukkan
7 khalifah sebagai masa kejayaan Abbasiyah, Jaih Mubarok, memasukkan 8 khalifah
sebagai masa kejayaan Abbasiyah. Begitu pula, Harun Nasution, hanya memasukkan
6 khalifah ke dalam kategori sebagai khalifah yang memajukan Abbasiyah.
Kesepuluh khalifah tersebut: As-Saffah (750); Al-Manshur (754); Al-Mahdi
(775); Al-Hadi (785); Ar-Rasyid (786); Al-Amin (809): Al-Ma'mun (313);
Al-Mu'tashim (833); Al-Watsiq (842); dan Al-Mutawakkil (847).
Dinasti Abbasiyah, seperti halnya dinasti lain dalam sejarah Islam, mencapai
masa kejayaan politik dan intelektual mereka segera setelah didirikan.
Kekhalifahan Baghdad yang didirikan oleh As-Saffah dan Al-Mashur mencapai masa
keemasannya antara masa khalifah ketiga, Al-Mahdi, dan khalifah kesembilan, Al-Watsiq.
dan lebih khusus lagi pada Harun Ar-Rasyid dan anaknya, Al-Ma’mun. Karena
kehebatan dua khalifah itulah, Dinasti Abbasiyah memiliki
kesan baik dalam ingatan publik, dan menjadi dinasti paling terkenal
dalam sejarah Islam. Diktum yang dikutip oleh penulis antologi, Ats-Tsa'alabi
(w. 1038) bahwa dari para khalifah Abbasiyah, “sang pembuka" adalah
Al-Manshur, “sang pencegah" adalah Al-Ma'mun, dan "sang penutup”
adalah Al-Mu'tadhid (892-902) adalah benar.
C.
KEMAJUAN MASA ABBASIYAH
Masa ini adalah masa keemasan atau masa kejayaan umat Islam sebagai pusat dunia dalam berbagai aspek peradaban.
Kemajuan itu hampir mencakup semua aspek kehidupan:
1.
administratif pemerintahan dengan biro-bironya;
2. system organisasi militer;
3. administrasi wilayah pemerintahan;
4. pertanian,
perdagangan, dan industri;
5. Islamisasi pemerintahan;
6. kajian dalam bidang kedokteran, astronomi, matematika, geografi, historiografi, filsafat Islam, teologi, hukum (figh), dan etika islam, sastra, seni, dan penerjemahan;
7. pendidikan, kesenian, arsitektur, meliputi
pendidikan dasar (khuttab),
menengah, dan perguruan tinggi; perpustakaan
dan toko buku, media tulis, seni rupa, seni musik, dan arsitek.
Rincian berbagai kemajuan tersebut, dapat dilihat dari temuan Philip K. Hitti sebagai
berikut.
1)
Biro-biro Pemerintahan Abbasiyah
Dalam menjalankan sistem teknis pemerintahan,
Dinasti Abbasiyah memiliki kantor pengawas (dewan az-ziman)
yang pertama kali diperkenalkan oleh Al-Mahdi; dewan korespondensi atau kantor
arsip (dewan at-tawqi) yang menangani semua surat resmi, dokumen
politik serta instruksi dan ketetapan khalifah; dewan penyelidik
keluhan; departemen kepolisian dan pos. Dewan
penyelidik keluhan (dewan an-nazhar fi al-mazhalini) adalah sejenis pengadilan tingkat banding,
atau pengadilan tinggi untuk menangani kasus-kasus yang diputuskan secara
keliru pada departemen administratif dan politik. Cikal bakal dewan
ini dapat dilacak pada masa Dinasti Umayah, karena Al-Mawardi meriwayatkan
bahwa Abd Al-Malik adalah khalifah pertama yang menyediakan satu hari khusus untuk
mendengar secara langsung permohonan dan keluhan rakyatnya. Umar II meneruskan
praktik tersebut. Praktik itu kemudian diperkenalkan oleh Al-Mahdi ke dalam pemerintahan Dinasti Abbasiyah. Penggantinya, Al-Hadi,
Harun, Al-Ma'mun, dan khalifah selanjutnya menerima keluhan itu dalam sebuah
dengar publik; Al-Muhtadi (869-870) adalah khalifah terakhir yang memelihara
kebiasaan tersebut. Raja Normandia, Roger II (1130-1154) memperkenalkan lembaga tersebut ke Sisilia, yang kemudian mengakar di
daratan Eropa.
2)
Sistem Militer
Sistem militer terorganisasi dengan baik, berdisiplin
tinggi, serta mendapat pelatihan dan pengajaran secara reguler. Pasukan
pengawal khalifah (hams)
mungkin merupakan satu-satunya pasukan tetap yang mengepalai sekelompok pasukan. Selain mereka, ada juga pasukan bayaran dan sukarelawan, serta sejumlah pasukan dari berbagai suku dan
distrik. Pasukan tetap (jund) yang bertugas aktif disebut murtaziqah (pasukan yang dibayar secara berkala oleh pemerintah). Unit pasukan lainnya disebut muta-thawwi 'ah (sukarelawan), yang hanya menerima gaji
ketika bertugas. Kelompok sukarelawan ini direkrut dari orang badui,
para petani, dan orang kota. Pasukan pengawal istana memperoleh
bayaran lebih tinggi, bersenjata lengkap, dan berseragam. Pada masa-masa
awal pemerintahan khalifah Dinasti Abbasiyah, rata-rata gaji pasukan
infanteri, di samping gaji dan santunan rutin sekitar 960 dirham per
tahun, pasukan kavaleri menerima dua kali lipat dari itu.
3)
Wilayah Pemerintahan
Pembagian wilayah kerajaan Umayah ke dalam provinsi yang dipimpin oleh seorang gubernur (tunggal amir atau amil) sama dengan
pola pemerintahan
pada kekuasaan Bizantium dan Persia. Pembagian ini tidak mengalami
perubahan berarti pada masa Dinasti Abbasiyah. Provinsi Dinasti Abbasiyah
mengalami perubahan dari masa ke masa, dan klasifikasi politik juga tidak
selalu terkait dengan klasifikasi geografis, seperti yang terekam dalam karya
Al-Ishthakhri, Ibn Hawqal, Ibn Al-Faqh, dan karya-karya sejenis. Berikut ini
merupakan provinsi-provinsi utama pada masa awal kekhalifahan Baghdad: 1)
Afrika di sebelah barat Gurun Libya bersama Sisilia; 2) Mesir; 3) Suriah dan
Palestina, yang terkadang dipisahkan; 4) Hijaz dan Yamamah (Arab Tengah); 5)
Yaman dan Arab Selatan; 6) Bahrain dan Oman, dengan Bashrah dan Irak sebagai
ibukotanya; 7) Sawad atau Irak (Mesopotamia bawah), dengan kota utamanya
setelah Baghdad, yaitu Kufah dan Wash; 8) Jazirah (yaitu kawasan Assyiria Kuno,
bukan Semenanjung Arab), dengan ibukota
Mosul; 9) Azerbaijan, dengan kota-kota besarnya, seperti Ardabil, Tibriz, dan
Maraghah; 10) Jibal (perbukitan, Media Kuno), kemudian dikenal dengan Irak
Ajami (Iraknya orang Persia), dengan kota utamanya adalah Ramadan.
4)
Perdagangan dan Industri
Sejak masa
khalifah kedua Abbasiyah, Al-Manshur, sumber Arab paling awal yang menyinggung
tentang hubungan maritime Arab dan Persia dengan India dan Cina berasal dari
laporan perjalanan Sulaiman At-Tajir dan para pedagang Muslim lainnya pada abad ke-3 Hijriah. Tulang punggung perdagangan ini adalah sutra, kontribusi terbesar
orang Cina kepada dunia barat. Biasanya, jalur perdagangan yang disebut “jalan
sutra ”, menyusuri Samarkand dan Turkistan Cina, sebuah wilayah yang kini tidak banyak dilalui dibanding wilayah dunia lainnya yang sudah dihuni dan berperadaban. Barang-barang dagangan biasanya diangkut secara estafet; hanya sedikit khafilah yang menempuh sendiri perjalanan sejauh itu. Akan tetapi, hubungan diplomatik telah dibangun sebelum orang
Arab terjun ke dunia perdagangan. Diriwayatkan bahwa Sa’d Ibn Abi Waqqash,
penakluk Persia, menjadi duta yang dikirim Nabi ke Cina. "Makam Sa’d masih bisa
ditemukan di Kanton. Tulisan-tulisan tertentu pada monumen Cina lama tentang agama
Islam di Cina jelas merupakan tulisan palsu yang dibuat oleh para
tokoh agama. Pada pertengahan abad ke-8 telah dilakukan
pertukaran duta. Dalam catatan Cina abad itu, kata amir al-muminin
diucapkan dengan hanmi mo mo In oleh Abu Al-Abbas, khalifah Dinasti
Abbasiyah pertama, A bo lo iba; dan Harun, A lun. Pada masa
khalifah-khalifah itu terdapat sejumlah orang Islam yang menetap di Cina. Pada mulanya, orang Islam
itu dikenal dengan sebutan Ta syih dan kemudian Hui
Hui (pengikut Muhammad).
Di sebelah barat, para pedagang Islam telah mencapai Maroko dan Spanyol. Seribu tahun
sebelum de Lesseps, Khalifah Harun mengemukakan gagasan tentang menggali kanal
di sepanjang Ists-mus di Suez. Namun, perdagangan di Mediterania Arab tidak
pernah mencapai kemajuan yang berarti. Laut Hitam juga tidak bisa mendukung perdagangan maritim,
meskipun pada abad ke-10 telah dilakukan perdagangan singa melalui jalur
darat ke utara dengan orang yang tinggal di kawasan Valda. Namun, karena
jaraknya yang dekat dengan pusat kota Persia dan kota-kota makmur di Samarkand dan Bukhara, Laut Kaspia menjadi titik pertemuan dagang yang favorit. Para pedagang muslim membawa kurma, gula, kapas, dan kain wol, juga peralatan dari baja dan gelas.
Pada masa Abbasiyah, orang-orang justru mampu mengimpor seperti
rempah-rempah, kapur barus, dan sutra dari kawasan Asia yang lebih jauh, juga
mengimpor gading, kayu eboni, dan budak kulit hitam dari Afrika. Gambaran
tentang jumlah keuntungan yang diperoleh Rothschild dan Rockefeller pada abad
tersebut mungkin juga telah diraih oleh seorang penjual permata dari Baghdad, Ibn
Al-Jashshash. yang tetap kaya meskipun Al-Muqtadir telah menyita hartanya
sebesar 16 juta dinar, dan menjadi keluarga pertama yang dikenal sebagai
pengusaha permata. Para pengusaha dari Bashrah yang membawa dagangannya dengan
kapal laut ke
berbagai negeri yang jauh. masing-masing membawa muatan yang bernilai lebih dari satu juta dirham. Seorang pemilik penggilingan di Bashrah dan Baghdad yang tidak berpendidikan mampu
berderma untuk orang miskin sebesar seratus dinar per hari, dan kemudian
diangkat oleh Al-Mu'tashim menjadi wazirnya.
Tingkat aktivitas perdagangan semacam itu didukung pula oleh pengembangan
industri rumah tangga dan pertanian yang maju. Industri kerajinan tangan
menjamur di berbagai pelosok kerajaan. Daerah Asia Barat menjadi pusat industri
karpet, sutra. kapas, dan kain wol. satin dan brokat (dibaj), sofa (dari
bahasa Arab, suffah) dan kain pembungkus bantal, juga perlengkapan dapur
dan rumah tangga lainnya. Mesin penganyam Persia dan Irak membuat
karpet dan kain berkualitas tinggi. Ibu Al-Musta'in memiliki sehelai karpet
yang dipesan khusus seharga 130 juta dirham dengan corak berbagai jenis burung dari emas yang dihiasi
batu nubi dan batu-batuan indah lainnya. Sebuah pusat industri di Baghdad yang
namanya diambil dari nama seorang pangeran Umayyah, Attab, memberi
merek kain buatannya dengan ’attabi yang pertama kali dibuat di sana pada abad
ke-12. Kain tersebut ditiru oleh perajin Arab di Spanyol, dan terkenal di
Perancis, Italia, dan negara Eropa lainnya dengan nama tabi. Istilah
tersebut kemudian berubah menjadi tabby, merujuk pada seekor kucing yang unik dan
berwarna. Kufah memproduksi kain separuh sutra untuk penutup
kepala yang masih digunakan dengan nama kuftyah. Tawwaj, Fasa, dan
kota-kota lainnya di Paris memiliki sejumlah pabrik kelas satu yang membuat karpet, sulaman,
brokat, dan gaun panjang untuk kalangan atas. Barang-barang semacam itu dikenal sebagai thiraz (dari bahasa Persia) yang memuat nama atau
kode sultan.
5) Perkembangan Bidang Pertanian
Bidang pertanian maju
pesat pada awal pemerintahan Dinasti Abbasiyah karena pusat pemerintahannya berada di daerah yang sangat subur, di tepian sungai
yang dikenal dengan nama Sawad. Pertanian merupakan sumber utama
pemasukan negara dan pengolahan tanah hampir sepenuhnya oleh penduduk asli, yang statusnya
mengalami peningkatan
pada masa rezim baru. Lahan-lahan pertanian yang terlantar, dan desa-desa yang hancur di berbagai wilayah kerajaan diperbaiki dan dibangun kembali secara bertahap. Daerah rendah
di lembah Tigris-Efrat,
yang merupakan daerah terkaya setelah Mesir, dan
dipandang sebagai surge Aden, mendapat perhatian khusus dari pemerintah
pusat. Mereka membuka kembali
saluran irigasi yang lama dari sungai Efrat,
dan membuat saluran irigasi baru sehingga membentuk sebuah “jaringan yang
sempurna". Ada 113 Kanal besar pertama, yang disebut Nahr
'lsa setelah digali kembali oleh keluarga Al-Manshur, menghubungkan aliran
sungai Efrat di Anbar sebelah barat laut dengan sungai Tigris di
Baghdad. Salah satu cabang utama Nahr ‘Isa adalah Sharah. Kanal terbesar kedua adalah Nahr Sharshar, yang bertemu
dengan sungai Tigris di daerah Madain. Kanal ketiga adalah Nahr Al-Malik ("sungai raja"),
yang tersambung ke sungai Tigris di bawah Madain. Di bawah dua sungai
itu terdapat Nahr Kutsa dan Sharah Besar, yang mengairi sejumlah saluran.
Kanal lainnya, Dujayl (sungai yang lebih kecil dari Diljah, Tigris), yang
awalnya menghubungkan Tigris dengan Efrat, semakin dangkal pada abad ke-10. dan
nama itu kemudian menjadi nama kanal baru berbentuk oval, yang merupakan cabang
dari sungai Tigris di bawah Kadisiyah dan membuat beberapa cabang lain sebelum
akhirnya bertemu kembali dengan sungai Tigris. Kanal lainnya yang kurang
penting adalah Nahr Ash-Shilah yang digali di Wash oleh Al-Mahdi. Para ahli geografi Arab
menyebutkan beberapa khalifah yang "menggali" atau “membuka
saluran", yang dalam kebanyakan kasus, sebenarnya hanya menggali dan
membuka kembali kanal-kanal yang pernah ada sebelumnya sejak masa Babilonia. Di
Irak dan Mesir, yang
dilakukan adalah mengaktifkan kembali jaringan kanal lama. Bahkan,
sebelum Perang Dunia Pertama, Sir William Willcock yang ditugaskan oleh
pemerintahan Utsmani untuk mengkaji persoalan irigasi di Irak, merekomendasikan
untuk membuka lagi aliran sungai lama, daripada membangun kanal-kanal baru
Tanaman asli Irak terdiri atas gandum, padi, kurma, wijen,
kapas, dan rami. Daerah yang sangat subur berada di
bantaran tepian sungai ke selatan, Sawad, yang
menumbuhkan berbagai jenis buah dan sayuran, yang tumbuh di daerah panas maupun dingin. Kacang, jeruk, tebu, terong, dan beragam bunga, seperti bunga mawar dan violet juga tumbuh subur.
6)
Islamisasi Masyarakat
Sebanyak 5.000 orang Kristen Banu Tanukh di dekat Alleppo mengikuti perintah
Khalifah untuk masuk Islam. Proses konversi secara normal berjalan lebih gradual, damai, dan bersifat pasti.
Kebanyakan konversi yang dilakukan oleh penduduk taklukan didorong oleh motif
kepentingan individu, agar terhindar dari pajak dan sejumlah aturan lain yang
membatasi, agar mendapat prestise social dan pengaruh politik, serta menikmati
kebebasab dan keamanan yang lebih besar. Penduduk Persia baru beralih ke agama
Islam pada abad ketiga setelah wilayah ini dikuasai Islam.
7)
Bidang Kedokteran
Dari tulisan Ibn Maskawayh, kita mendapatkan sebuah risalah sistematik berbahasa Arab paling tua tentang
optalmologi. Belakangan ini, sebuah buku berjudul Al-Asyr Maqalat fi Al-Ayn
(Sepuluh Risalah tentang Mata) yang dianggap sebagai karya muridnya, Hunayn ibn
Ishaq, telah diterbitkan dalam bahasa Inggris sebagai buku teks tentang optalmologi paling
awal yang kita miliki. Minat orang Arab terhadap ilmu kedokteran diilhami oleh
hadis Nabi yang membagi pengetahuan ke dalam dua kelompok: teologi dan
kedokteran. Dengan demikian, seorang dokter sekaligus merupakan seorang teolog.
Ali ibn Al-Abbas (Haly Abbas, w. 994), yang awalnya menganut ajaran
Zoroaster, sebagaimana terlihat dari namanya, Al-Majusi, dikenal sebagai
penulis buku Al-Kitab Al-Maliki (buku raja, Liber regius), yang
ia tulis untuk Raja Buwayhi, Adhud Ad-Dawlah Fanna Khusraw. Yang memerintah
antara 949 hingga 983, Karya ini yang disebut juga Kamil Ash-Shind’ah Ath-Thibbyah, sebuah “kamus penting yang meliputi pengetahuan dan praktik
kedokteran”.
Nama paling terkenal dalam catatan kedokteran Arab setelah Ar-Razi adalah Ibn Sina
(Avicenna, masuk ke bahasa Latin melalui bahasa Ibrani, Aven Sina, 980-1037), yang disebut oleh orang Arab sebagai Asy-Syaikh Ar-Ra’is, "pemimpin" (orang terpelajar) dan “pangeran"
(para pejabat). Ar-Razi lebih menguasai kedokteran daripada
Ibn Sina, sedangkan Ibn Sina lebih menguasai filsafat daripada Ar-Razi. Dalam
diri seorang dokter, filosof dan penyair inilah, ilmu pengetahuan
Arab mencapai titik puncaknya dan berinkarnasi.
8)
Pendidikan, Perpustakaan, dan Toko Buku
Lembaga pendidikan Islam pertama untuk pengajaran yang lebih tinggi tingkatannya adalah Bait Al-Hikmah {Rumah
Kebijakan) yang didirikan oleh Al-Ma'mun (830 M.) di
Baghdad, ibukota negara. Selain berfungsi sebagai biro penerjemahan. lembaga
ini juga dikenal sebagai kajian akademis dan perpustakaan umum, serta
memiliki sebuah observatorium. Pada saat itu,
observatorium-observatorium yang banyak bermunculan juga berfungsi sebagai
pusat-pusat pembelajaran astronomi. Fungsi lembaga itu persis sama
dengan rumah sakit, pada awal kemunculannya sekaligus berfungsi
sebagai pusat pendidikan kedokteran. Akan tetapi, akademi Islam pertama
yang menyediakan berbagai kebutuhan fisik untuk mahasiswanya, dan menjadi model
bagi pembangunan akademi-akademi lainnya adalah Nizhamiyah yang didirikan pada
tahun 1061-1067 oleh Nizam Al-Mulk, seorang menteri dari Persia pada
kekhalifahan Bani saljuk, Sultan Alp Arslan, Malkyah, yang juga merupakan penyokong
Umar Al-Khayyam. Dinasti Saljuk, sebagaimana Dinasti Buwaihiyah dan
sultan-sultan non-Arab lainnya yang mengemban kekuasaan besar atas
kehidupan umat islam, bersaing satu sama lain dalam hal pengembangan
seni dan pendidika yang lebih tinggi.
D. KEMUNDURAN
DINASTI ABBASIYAH
Faktor-faktor Penyebab Kemunduran
1. Faktor intern
a) Kemewahan hidup di kalangan penguasa
Perkembangan peradaban dan kebudayaan serta kemajuan
besar yang dicapai Dinasti Abbasiyah pada periode pertama telah
mendorong para penguasa untuk hidup mewah, bahkan cenderung
mencolok. Setiap khalifah cenderung ingin lebih mewah
daripada pendahulunya. Kondisi ini memberi peluang kepada tentara
profesional asal Turki untuk mengambil alih kendali pemerintahan.
b) Perebutan kekuasaan antara keluarga Bani
Abbasiyah
Perebutan kekuasaan dimulai sejak masa Al-Ma’mun dengan
Al-Amin. Ditambah dengan masuknya unsur Turki dan Parsi. Setelah Al-Mutawakkil
wafat, pergantian khalifah terjadi secara tidak wajar. Dari kedua
belas khalifah pada periode kedua Dinasti Abbasiyah, hanya empat orang khalifah yang wafat dengan wajar. Selebihnya, para khalifah itu wafat
karena dibunuh atau diracun dan diturunkan secara paksa.
c) Konflik
keagamaan
Sejak terjadinya konflik antara Muawiyah dan Khalifah Ali
yang berakhir dengan lahirnya tiga kelompok umat: pengikut Muawiyah, Syi’ah,
dan Khawarij, ketiga kelompok ini senantiasa berebut pengaruh. Yang senantiasa
berpengaruh pada masa kekhalifahan Muawiyah maupun masa kekhalifahan Abbasiyah
adalah kelompok Sunni dan kelompok Syi'ah. Walupun pada masa-masa tertentu
antara kelompok Sunni
dan Syi'ah saling mendukung. misalnya pada masa pemerintahan Buwaihi, antara kedua kelompok
tak pernah ada satu kesepakatan.
2.
Faktor ekstern
a)
Banyaknya pemberontakan
Banyaknya daerah yang tidak dikuasai oleh khalifah,
akibat kebijakan yang lebih menekankan pada pembinaan peradaban
dan kebudayaan Islam, secara real, daerah-daerah itu berada di bawah
kekuasaan gubernur-gubernur yang bersangkutan. Akibatnya,
provinsi-provinsi tersebut banyak yang melepaskan diri dari
genggaman penguasa Bani Abbas. Adapun cara provinsi tersebut
melepaskan diri dari kekuasaan Baghdad adalah: Pertama, seorang pemimpin lokal
memimpin suatu pemberontakan dan berhasil memperoleh kemerdekaan penuh, seperti
Daulah Umayah di Spanyol dan Idrisiyah di Maroko. Kedua, seseorang ditunjuk
menjadi gubernur yang oleh khalifah, kedudukannya semakin bertambah kuat,
kemudian melepaskan diri. seperti daulat Aglabiyah di Tunisia dan Thahiriyah di
Kurasan.
b)
Dominasi Bangsa Turki
Sejak abad kesembilan, kekuatan militer Abbasiyah mulai mengalami kemunduran.
Sebagai gantinya, para penguasa Abbasiyah mempekerjakan
orang-orang profesional di bidang kemiliteran, khususnya tentara Turki,
kemudian mengangkatnya menjadi panglima-panglima. Pengangkatan anggota militer inilah, dalam
perkembangan selanjutnya, yang
mengancam kekuasaan khalifah. Tentara
Turki berhasil merebut kekuasaan tersebut. Walaupun khalifah dipegang oleh Bani Abbas, di
tangan mereka, khalifah bagaikan boneka yang tidak bisa berbuat
apa-apa. Bahkan, merekalah yang memilih dan menjatuhkan khalifah yang
sesuai dengan politik mereka.
E. SEBAB-SEBAB
KEHANCURAN DINASTI ABBASIYAH
I. Faktor Intern
·
Lemahnya semangat patriotism Negara, menyebabkan jiwa jihad yang
diajarkan Islam tidak berdaya lagi menahan segala amukan yang datang, baik dari
dalam maupun luar.
·
Hilangnya sifat amanah dalam segala perjanjian yang dibuat,
sehingga kerusakan moral dan kerendahan budi menghancurkan sifat-sifat baik
yang mendukung Negara selama ini.
·
Tidak percaya pada kekuatan sendiri. Dalam mengatasi berbagai pemberontakan,
khalifah mengundang kekuatan asing. Akibatnya kekuatan asing tersebut
memanfaatkan kelemahan khalifah.
·
Fanatik madzhab persaingan dan perebutan yag tiada henti antara
Abbasiyah dan Alawiyah menyebabkan kekuatan umat islam menjadi lemah, bahkan hancur
berkeping-keping.
·
Kemerosotan ekonomi terjadi karena banyaknya biaya yang digunakan
untuk anggaran tentara. Selain itu, karena banyaknya pemberontakan dan
kebiasaan para penguasa untuk berfoya-foya.
II. Faktor Ekstern
Disintegrasi, akibat kebijakan untuk lebih mengutamakan pembinaan
peradaban dan kebudayaan islam daripada politik, provinsi-provinsi tertentu
dipinggiran mulai melepaskan dari genggaman penguasa Bani Abbasiyah. Mereka
bukan sekedar memisahkan diri dari kekuasaan khalifah, tetapi memberontak dan
berusaha merebut pusat kekuasaan Baghdad. Hal ini dimanfaatkan oleh pihak luar
dan banyak mengorbankan umat, yang berarti juga menghancurkan Sumber Daya
Manusia (SDM).
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Perkembangan peradaban Islam pada masa
kejayaan di Baghdad yang dibawah kepemimpinan khalifah Al-Mansur dan mencapai
puncaknya pada zaman khalifah Harun Ar-Rasyid pada tahu 786-809 M dengan
putranya Al-Ma’mun. Pada tahun 813-833 yang mana kejayaan yang mereka miliki dimanfaatkan
untuk keperluan sosial, rumah sakit, lembaga pendidikan, dokter dan farmasi.
Pada masa Abbasiyah, bidang kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan
kebudayaan serta kesusastraan berada pada zaman keemasan.
DAFTAR PUSTAKA
·
Al-Din,
Burhan, Jazirat- Arab al-Islam, Beirut: t. p. 1989
·
Asy
Syarkowi, Abdurrahman, Muhammad Sang Pembebas, Yogyakarta: Mitra
Pustaka 2003
·
R
A A, Nicholson, A Literary History of The Arabs, Cambridge :
Cambridge University Perss 1997
·
Sa’id
Romadhan al-Buthy, Muhammad, Sirah Nabawiyah, Jakarta: Robbani Press cet
11 2006
·
Yatim
Badri, Sejarah Peradaban Islam , Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
2008
·
Ibrahim, Hasan. 1989. Sejarah dan Kebudayaan Islam.
Bandung : Pustaka Yogyakarta.
·
Nasution, Harun. 1985 Islam Ditinjau dari Berbagai
Aspeknya. Jakarta : UI Press.
·
Supriadi, Dedi. 2008. Sejarah Peradaban Islam.
Bandung : Pustaka Setia.