BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam sejarah kebudayaan umat manusia proses tukar-menukar
dan interaksi (interminglin) atau
pinjam meminjam konsep antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lain memang
senantiasa terjadi, seperti yang terjadi antara kebudayaan barat dan peradaban
islam. Dalam proses ini selalu terdapat sikap resistensi dan akseptansi. Namun
dalam kondisi dimana suatu kebudayaan itu lebih kuat dibanding yang lain yang
tejadi adalah dominasi yang kuat terhadap yang lemah. Istilah ibn khaldun,
"Masyarakat yang ditaklukkan, cenderung meniru budaya
penakluknya".
Ketika peradaban islam menjadi sangat kuat dan dominan
pada abad pertengahan, masyarakat Eropa cenderung meniru atau "berkiblat ke
islam". Kini ketika giliran kebudayaan barat yang kuat dan dominan maka
proses peniruan itu juga terjadi. Terbukti sejak kebangkitan barat dan lemahnya
kekuasaan politik islam, para ilmuwan muslim belajar berbagai disiplin ilmu
termasuk islam ke barat dalam rangka meminjam. Hanya saja karena peradaban islam
dalam kondisi terhegemoni maka kemampuan menfilter konsep-konsep dalam
pemikiran dan kebudayaan barat juga lemah.
1.2 Rumusan masalah
1. Apa
yang dimaksud Sejarah Peradaban Islam?
2. Apa
saja Konsep Kebudayaan dan Peradaban Islam?
3. Apa
saja Dasar-dasar Sejarah Peradaban Islam?
4. Bagaimana
Periodisasi Sejarah Peradaban Islam?
1.3
Tujuan
1. Mengetahui
apa yang di maksud Sejarah Peradaban Islam.
2. Mengetahui
apa saja Konsep Kebudayaan dan Peradaban Islam.
3. Mengetahui
Dasar-dasar Peradaban Islam.
4. Mengetahui
Periodisasi Sejarah Peradaban Islam.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Sejarah sebagai Ilmu Pengetahuan
Dalam
bahasa Inggris, sejarah disebut history yang artinya masa yang
telah lampau. Dalam hal ini masa lampau umat manusia. Oleh karena itu,
sejarah tentu saja membahas kegiatan manusia di masa lampau. Bahkan kata history ini
berawal dari kata benda istor dalam bahasa Yunani berarti orang
pandai atau bijaksana. Hal ini karena dalam catatan sejarah peristiwa dan kisah
yang terjadi dapat diambil ibrahnya sehingga manusia tidak melakukan kesalahan
lagi dalam kehidupannya. Dalam bahasa Arab sejarah ini dipadankan dengan
istilah sajaratun, artinya pohon. Kalau kita melihat Gambar
silsilah raja-raja, secara pintas akan tampak seperti gambar sebuah pohon. Oleh
karena itu, sejarah dapat diartikan silsilah keturunan raja-raja, yang berarti
merupakan peristiwa pemerintahan dan keluarga raja yang sudah lampau. Ada juga
yang menyebutkannya dalam bahasa Arab yaitu Tarikh yaitu suatu
cabang ilmu pengetahuan yang berkenaan dengan kronologi berbagai peristiwa.
Sejarawan Indonesia, seperti Sartono Kartodirjo membagi pengertian sejarah
sebagai subjektif dan objektif. Sejarah dalam arti Subjektif adalah suatu
konstruk, yakni bangunan yang disusun penulis sebagai suatu uraian atau cerita.
Disebut subjektif tidak lain karena sejarah memuat unsur-unsur dari isi subjek
(pengarang, penulis). Karena pengetahuan maupun gambaran sejarah adalah hasil
penggambaran atau rekonstruksi dari pengarang, mau tidak mau memuat
sifat-sifat, gaya bahasa, struktur pemikiran, pandangan, dan sebagainya.
Sedangkan sejarah dalam arti objektif adalah menunjuk kejadian atau peristiwa
itu sendiri, yakni proses sejarah dalam aktualitasnya.
Dalam
kaitan seperti ini, Ibn Khaldun; seorang pemikiran besar sosial – Islam,
mengingatkan kepada setiap sejarawan bahwa untuk melihat kembali sejarah secara
objektif, seorang sejarawan harus bisa mengenal dengan jelas berbagai struktur
kebudayaan dan sosial manusia yang akan ditelitinya, termasuk berbagai
pemahaman metodologi kearah ini. Tanpa mengenal dan mengerti dari dekat objek
yang akan dikaji berikut metodologinya, mustahil ia bisa menjelaskan fenomena
sejarah secara objektif. Begitupun, tanpa metodologi yang jelas, alur
penjelasan secara rasional atau dalam bahasa sekarang rekonstruksi,
sistematika-kronologis dan analisisnya akan sulit dimengerti dan diayakini
bahwa suatu persitiwa telah terungkap seperti apa adanya. Perlu diketahui bahwa
sejarah bukan hanya membahas peristiwa serta kejadian yang telah lampau saja,
tetapi ada tiga aspek yang saling terkait, yaitu masa lampau, masa kini, dan
masa yang akan datang.
Peristiwa
masa lampau dijadikan pengalaman serta pelajaran untuk masa kini, sedangkan
peristiwa masa kini dijadikan titik tolak kegiatan di masa mendatang. Hal ini
berarti bahwa sejarah mengandung pelajaran tentang nilai dan moral. Sehingga
sejarah itu mempunyai gambaran tentang latar belakang masyarakat yang ingin
dibicarakan dan memiliki kesinambungan dan perubahan dalam setiap perubahan
sehingga dapat diantisipasi terhadap apa yang terjadi sehingga sejarah secara
ilmu akan dapat berkembang. Hal inilah yang menganggap bahwa sejarah adalah
suatu ilmu tentang manusia, ilmu tentang waktu (ada perubahan, pengulangan,
perkembangan dan kesinambungan), sesuatu yang memiliki makna sosial, ilmu
tentang sesuatu yang tertentu yaitu satu-satunya yang terinci dapat
direkonstruksikan dimasa akan datang.
Ada
juga orang mengatakan bahwa sejarah itu merupakan rentetan peristiwa sebab
akibat. Inipun ada benarnya, karena peristiwa yang sedang terjadi biasanya
diakibatkan oleh sebuah peristiwa yang sedang terjadi biasanya diakibatkan oleh
sebuah peristiwa yang mendahului atau peristiwa yang melatarbelakangi.
Apabila
disimpulkan sejarah berarti catatan-catatan peristiwa masa lampau yang
benar-benar terjadi dan disusun berdasarkan bukti-bukti yang meyakinkan melalui
proses penelitian serta pengujian ilmiah.
Apabila
kita selidiki lebih dalam, sejarah itu ada setelah manusia ada di muka ini.
Dengan demikian, sejarah mempunyai sifat yang spesifik dibanding ilmu lainnya,
antara lain :
1.
Masa lalu yang dilukiskan
secara urutan waktu atau kronologis.
2.
Ada hubungan sebab akibat
atau kausalitas.
3.
Peristiwa sejarah
menyangkut masa lampau, masa kini, dan masa yang akan datang (tiga dimensi).
4.
Kebenarannya bersifat sementara
(merupakan hipotesis) yang akan gugur apabila ditemukan data pembuktian baru.
Sejarah
sebagai peristiwa pada hakikatnya sudah tidak ada lagi. Oleh karena itu, tidak
mungkin lagi dapat mengamati atau menyaksikan peristiwa tersebut. Yang bisa
kita amati adalah sejarah sebagai kisah, yaitu penelitian sejarah sebagai
peristiwa.
Sejarah
sebagai kisah adalah hasil karya atau hasil ciptaan orang yang menulisnya atau
sejarawan penulis. Sejarah sebagai kisah seharusnya cocok dengan sejarah
sebagai peristiwa masa lalu yang digambarkannya. Sejarawan penulis dapat
mengetahui bahwa peristiwa masa lampau terjadi seperti yang dikisahkan, sebab
dalam menyusun kisah masa lampau ia menggunakan dasar jejak-jejak peristiwa
masa lampau.
Secara
konseptual, sejarah pada dasarnya berkenaan dengan tiga aspek konseptual yang
mendasarinya, yaitu konsep tentang perubahan, konsep waktu dan kontinuitas.
A.
Konsep Perubahan
Sejarah
dalam hal ini adalah perubahan dari suatu keadaan kepada keadaan lain. Meski
demikian, hanya perubahan yang benar-benar memiliki makna penting bagi
kehidupan manusia yang dapat dikategorikan sebagai peristiwa perubahan yang
bernilai sejarah. Termasuk dalam kategori ini diantaranya perubahan rejim
kolonial ke nasional, dari masa khulafaurrasyidin ke dinasti umaiyyah atau dari
sistem musyawarah ke sistem monarkhi.
B.
Konsep Waktu
Peristiwa
sejarah bukan sesuatu yang datang tiba-tiba, bukan pula terjadi begitu saja
tanpa sebab apapun. Setiap peristiwa yang terjadi di suatu waktu tertentu pasti
ada kaitannya dengan waktu sebelum dan sesudahnya. Bila dirunut melalui
penelaahan sejarah, sangat mungkin ditemukan keterkaitannya suatu peristiwa
dengan situasi atau peristiwa yang terjadi sebelum dan sesudahnya.
Terjadinya
suatu peristiwa senantiasa dikarenakan oleh suatu sebab yang ada dalam alur
waktu. Konteks hubungan sebab-akibat peristiwa yang menjadi akibat dengan
peristiwa lain menjadi sebab adanya dalam dimensi waktu.
C.
Konsep Kontinuitas
Kehidupan
manusia berada dalam rangkaian perubahan demi perubahan yang berkesinambungan.
Perubahan demi perubahan tersebut tidak akan berhenti pada suatu titik
peristiwa. Dalam konteks kekinian (postmodern) bahkan diyakini bahwa perubahan
telah menjadi sesuatu yang pasti sebagaimana ungkapan ahli masa depan
(futurolog), “Saat ini yang pasti adalah ketidak pastian dan yang tetap adalah
perubahan (the certain now is uncertain and the constant now is
changing) Sebagian perubahan yang terjadi tentunya ada yang bermakna
sangat dalam bagi manusia, tetapi sebagian lagi sangat boleh jadi tidak
demikian. Kebermaknaan tersebut ditentukan oleh berbagai faktor, seperti
tingkat kedekatan, hubungan, kepentingan atau dampak suatu perubahan terhadap
manusia tertentu. Perubahan-perubahan tertentu yang menjadi momentum sejarah
tertentu bahkan sangat mungkin mengubah kehidupan banyak orang.
Sejarah
peradaban islam diartikan sebagai perekembangan atau kemajuan kebudayaan islam
dalam perspektif sejarahnya, dan peradaban islam mempunyai berbgai macam
pengetian lain diantaranya :
1. Sejarah peradaban islam merupakan kemajuan dan tingkat
kecerdasan akal yang di hasilkan dalam satu periode kekuasaan islam mulai dari
periode nabi Muhammad Saw sampai perkembangan kekuasaan islam sekarang.
2. Sejarah peradaban islam merupakan hasil hasil yang dicapai
oleh ummat islam dalam lapangan kesustraan, ilmu pengetahuan dan kesenian.
3. Sejarah perdaban islam merupakan kemajuan politik atau
kekuasaan islam yang berperan melindungi pandangan hidup islam terutama dalam
hubungannya dengan ibadah ibadah, penggunaan bahasa, dan kebiasaan hidup
bermasyarakat.
Dalam
perspektif islam manusia sebagai pelaku sekaligus pembuat peradaban memiliki
kedudukan dan peran inti, kedudukan dan posisi manusia di kisahkan dalam Al
Qur'an diantaranya:
a.
Manusia adalah ciptaan Allah yang
paling sempurna dan paling utama Allah berfirman :
“Dan
Sesungguhnya Telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan
dan di lautan, kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan kami lebihkan
mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas kebanyakan makhluk yang Telah kami
ciptakan.”
Sebagai
konsekwensi logis manusia memilki kebebasan yang bertanggung jawab, dalam arti
yang seluas luasnya dan pada dimensi yang beragam yang pasa gilirannya
merupakan amanat yang harus di pikul.
b.
Guna mengemban tugasnya sebagai
mahluk yang di mulyakan Allah, tidak sepeti ciptaan Allah yang lain. Semuanya
mempunyai tekanan yang sama yaitu agar manusia menggunakan akalnya hanya untuk
hal hal yang positif sesuai dengan fitrah dan panggilan hati nuraninya, dan
amatlah tercella bagi orang yang teperdaya oleh hawa nafsu terlepas dari
kemanusiaannya dan fitrahnya. Dan dalam hal ini Al Qur'an menegaskan :
Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau
memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni
neraka yang menyala-nyala." Mereka mengakui dosa mereka. Maka
kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.
2.2
Konsep Kebudayaan dan Peradaban dalam Islam
Peradaban
Islam adalah terjemahan dari kata Arab al-hadarah al-islamiyah.
Kata Arab ini juga diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan kebudayaan
Islam. Kebudayaan dalam bahasa Arab adalah al-tsaqafah. Di
Indonesia, sebagaimana juga di Arab dan Barat, masih banyak orang yang
mensinonimkan dua kata kebudayaan (Arab, al-tsaqafah,
Inggris, culture) dan Peradaban (Arab: al-hadharah;
Inggris: civilization)
Dalam
perkembangan ilmu Antropologi sekarang, kedua istilah itu dibedakan. Kebudayaan
adalah bentuk ungkapan tentang semangat mendalam suatu masyarakat. Sedangkan
dilebih berkaitan dengan peradaban. Kalau kebudayaan lebih banyak direfleksikan
dalam seni, sastra, religi (agama) dan moral, maka peradaban terefleksi dalam
politik, ekonomi, dan tekhnologi.
Menurut koentjaraningrat, kebudayaan
paling tidak mempunyai tiga wujud:
1.
Wujud ideal, yaitu; wujud
kebudayaan sebagai suatu kompleks ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma,
peraturan, dan sebagainya.
2.
Wujud kelakuan, yaitu wujud
kebudayaan sebagai kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam
masyarakat.
3.
Wujud benda, yaitu wujud
kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya.
Sedangkan istilah peradaban biasanya
dipakai untuk bagian-bagian dan unsur-unsur dari kebudayaan yang halus dan
indah. Menurutnya peradaban sering juga dipakai untuk menyebut suatu kebudayaan
yang memiliki sistem tekhnologi, seni bangunan, seni rupa, sistem kenegaraan
dan ilmu pengetahuan yang maju dan kompleks. Jadi kebudayaan, menurut definisi
pertama, adalah wujud ideal dalam defenisi koentjaraningrat, sementara menurut
definisi terakhir, kebudayaan mencakup juga peradaban, tetapi tidak sebaliknya.
Menurut
H.A.R. Gibb di dalam bukunya Whither Islam sebagaimana yang dikutip oleh M.
Natsir menyatakan “Islam is indeed much more than a system of theology, it
is a complete civilization” (Islam sesungguhnya lebih dari sekedar sebuah
agama, ia adalah suatu peradaban yang sempurna). Karena yang menjadi pokok
kekuatan dan sebab timbulnya kebudayaan adalah agama Islam, kebudayaan yang
ditimbulkannya dinamakan kebudayaan atau peradaban Islam.
Landasan
peradaban Islam adalah kebudayaan Islam terutama wujud idealnya, sementara
landasan kebudayaan Islam adalah agama. Jadi dalam Islam, tidak seperti pada
masyarakat yang menganut agama bumi (non-samawi), agama bukanlah kebudayaan
tetapi dapat melahirkan kebudayaan, kalau kebudayaan merupakan hasil cipta,
rasa, dan karsa manusia, maka agama Islam adalah wahyu dari Tuhan yang
termanifestasikan pada kebudayaan Islam. Dasar –dasar kebudayaan inilah yang
membentuk peradaban Islam.
Jika
dilihat dari pengertian peradaban dari bahasa Inggris; Civilization yang
artinya, kemudian dalam bahasa Jerman Weltanschauung yang artinya pencerahan.
Hal ini bermakna peradaban adalah konotasi positif pada diri manusia yang
berkembang secara sadar menjadi manusia yang ideal. Konsep peradaban yang
dibangun dalam Islam menurut Ziauddin sadar bahwa eksistensi manusia dalam
pencapaian peradaban dilihat dari cara menggunakan eksistensinya menjadi
prestasi way of life artinya dalam pencapaian peradaban adanya
perimbangan antara materi, akal, dan aspek spiritual yang dicari manusia
sehingga peradaban manusia menjadi konsep yang lahir dari ilahi. Dengan
demikian peradaban itu berarti suatu kondisi masyarakat yang terdiri dari
kesatuan budaya dalam sejarahnya dan merupakan hal-hal yang tertinggi dari kebudayaan
yang merupakan artificial, tidak metafisis, tidak berjiwa melainkan dikuasai
oleh intelektualitas manusia yang hidup pada masa tersebut dan dalam islam
parameternya peradaban itu tidak lain adalah wahyu ilahi. Maka jika dikatakan
Sejarah Peradaban Islam berarti pemaparan keotentikan peristiwa masa lampau
dilihat dari kemajuan intelektualnya dalam sejarah islam yang dilakukan dengan
pengujian keilmiahan.
2.3
Dasar-dasar Peradaban Islam
Secara
umum Ahmad Syalabi menjelaskan bahwa formasi peradaban Islam mewujud ke
dalam tiga model berikut ini, pertama: peradaban Negara dan Sejarah (hadharah
al-duwal wa al-tarikh), yaitu pola dan bentuk peradaban yang mengembangkan
bangunan suatu kenegaraan dan pemerintahan. Dalam banyak hal, telah banyak
bermunculan pemerintahan dan Negara-negara Islam yang terus berupaya untuk
meningkatkan dan mengayomi masyarakatnya dalam kemajuan di berbagai aspek
kehidupan. Dalam hal ini kewajiban Negara tidak hanya mengayomi satu kabilah
saja, tapi mencoba menjadi wadah keumatan. Fenomena ini merupakan perubahan
sosial budaya dan politik yang sangat fundamental. Kedua peradaban tajribiyah
wa muqtasabah, yaitu peradaban luar yang diadopsi oleh islam, karena dalam
banyak hal telah diketahui dan dicapai bermacam ragam manusia pada beberapa
ratus atau bahkan beberapa ribu tahun sebelum islam lahir, seperti kemajuan
dalam bidang filsafat, sastra, kedokteran, ilmu pasti, astronomi dan lainnya.
Ketiga,
peradaban Islam yang asli (al-hadharah al-islamiyah al-ashylah), yaitu
peradaban yang bersumber dan dibawa oleh kewahyuan islam sendiri dalam
mengembangkan dan memberdayakan masyarakat manusia di mana sebelumnya tidak
pernah ada. Seperti halnya pandangan Islam yang memberikan nilai penghargaan
dalam mengangkat harkat dan martabat jiwa kemanusiaan pada posisi yang sangat
tinggi. Peradaban seperti ini, sifatnya orisinil dalam menciptakan hal-hal yang
baru (al-khulkh, al-ibda atau al-ibtikar). Manfaat peradaban yang asli ini
dapat dinikmati, baik oleh umat Islam ataupun umat lainnya. Peradaban Islam
yang asli ini, menurut Ahmad Syalaby meliputi beberapa aspek penting, di
antaranya keimanan (akidah dan akhlak), politik (siyasah),
ekonomi (iqtisad), kehidupan sosial (al-hayah al-ijtimaiyah) dan
hubungan antar bangsa.
2.4
Periodisasi Sejarah Peradaban Islam
Peradaban
Islam adalah landasan historis yang mengkaji tentang keseluruhan kebudayaan
dalam suatu periodisasi sejarah. Periodisasi sejarah sangat berhubungan dengan
konteks ruang dan waktu yang sangat berpengaruh pada hasil karya, ide dan
gagasan di masa yang lalu. Oleh karena itu dikalangan sejarawan terdapat
perbedaan tentang saat dimulainya sejarah islam. Secara umum, perbedaan
pendapat tersebut dapat dibedakan menjadi dua. Pertama, sebagian sejarawan
berpendapat bahwa sejarah islam dimulai sejak Nabi saw. Diangkat menjadi rasul.
Menurut pendapat ini, selama 13 tahun Nabi Muhammad saw tinggal di Mekkah telah
lahir masyarakat muslim meskipun belum berdaulat. Kedua, sebagian sejarawan
berpendapat bahwa sejarah umat islam dimulai sejak nabi Muhammad saw hijrah ke
Madinah karena masyarakat muslim baru berdaulat ketika nabi Muhammad saw
tinggal di Madinah. Karena Muhammad saw yang tinggal di Madinah, tidak hanya
sebagai rasul, tetapi juga merangkap sebagai pemimpin atau kepala Negara
berdasarkan konstitusi yang disebut Piagam Madinah. Disamping banyaknya
perbedaan mengenai sejarah umat Islam ini maka para sejarawan juga berbeda
dalam menentukan fase dalam periodisasi Islam ini salah satu contoh.
Menurut
Prof. Dr. Harun Nasution, periodisasi sejarah Islam terbagi pada 3 periode :
1) Periode klasik (650 – 1250 M)
Pada
periode ini, disebut juga sebagai masa keemasan di dalam sejarah islam. Sebagai
masa keemasan, masa ini sering dijadikan tolak ukur dan rujukan keteladanan.
Masa Nabi saw yang hanya berlangsung kurang lebih 23 tahun. Pada periode
klasik, arab sangat menonjol karena memang Islam hadir di sana. Pada masa
klasik telah terwujud kesatuan budaya islam di bawah naungan Islam dengan
bahasa arab. Pada masa ini Islam meliputi dua masa kemajuan yaitu: masa
Rasululah saw, khulafaurrasyidin, bani umaiyah dan masa-masa permulaan daulah
Abbasiyah. Masa itu merupakan masa perluasan wilayah yang dimulai oleh
khulafaurrasyidin dilanjutkan Bani Umaiyah dan mencapai keemasan pada masa bani
Abbasiyah yang membuat islam menjadi Negara besar. Di masa ini peradaban Islam
tumbuh menjadi peradaban baru. Dari sisi perkembangan ilmu telah berkembang
kajian-kajian teologi pada masa kini. Pada awal islam pengaruh helenisme dan
juga filsafat Yunani terhadap tradisi keilmuan, Islam sudah sangat kental,
sehingga pada saat selanjutnya pengaruh itupun terus mewarnai perkembangan ilmu
pada masa-masa berikutnya.
2) Periode Pertengahan (1250 –
1800 M)
Pada
periode pertengahan muncul tiga kerajaan besar Islam yang mewakili tiga kawasan
budaya, yaitu kerajaan usmani di Turki, kerajaan Safawi di Persia, dan kerajaan
mughal di India. Kerajaan-kerajaan islam yang lain, meski juga ada yang cukup
besar, tetapi jauh lebih lemah dibandingkan dengan tiga kerajaan ini, bahkan
berada dalam pengaruh salah satu diantaranya. Kerajaan Mughal adalah kerajaan
yang berdiri seperempat abad setelah berdirinya Kerajaan Safawi, jadi diantar
ketiga kerajaan besar tersebut kerajaan mughal inilah yang termuda, walaupun
kerajaan ini bukanlah kerajaan Islam yang pertama di anak benua India,Pada
periode pertengahan, pembahasan yang paling banyak mendapat tempat adalah
percaturan politik di pusat Islam dan peradaban yang dibina oleh
dinasti-dinasti yang kebetulan berhasil memegang hegemoni politik, serta tiga
kerajaan besar Islam (Usmani, Safawi, dan Mughal) dan peradaban yang dibinanya.
Pada periode ini terjadi dua masa kemunduran dan masa Tiga Kerajaan Besar.
Turki Utsmani, daulah Shafawiyah, dan Daulah Mongoliyah di India. Fase tiga
kerajaan besar mengalami kemajuan pada tahun 1500 – 1700 M, dan mengalami
kemunduran kembali pada 1700 – 1800 M.
3) Periode Modern (1800 –
sampai sekarang)
Pada
masa ini telah terbentuk sistem masyarakat muslim yang bersifat global.
Masing-masing dibangun berdasarkan interaksi antara institusi Negara Islam, keagamaan
dan institusi Komunal Timur Tengah dengan institusi sosial dan cultural
setempat, dan setiap interaksi melahirkan tipe kemasyarakatn Islam yang
berbeda-beda. Meskipun setiap masyarakat bersifat khas (unique), namun diantara
mereka terdapat kemiripan bentuk dan antar mereka dipertalikan oleh beberapa
hubungan politik dan keagamaan dan oleh persamaan nilasi-nilai cultural. Dengan
demikian mereka membentuk Islam yang bersifat global (mendunia).
Hal
ini tentu berbeda dengan buku Badri Yatim dalam bukunya Sejarah Peradaban Islam
yang membagi sbb:
a.
Masa Kemajuan Islam (650
-1000M).
b.
Masa disintegrasi (1000 –
1250 M).
c.
Islam di Spanyol dan pengaruhnya
terhadap Renaisans di Eropa.
d.
Masa Kemunduran.
e.
Masa tiga kerajaan Besar
(1500-1800M).
f.
Kemunduran tiga kerajaan
besar (1700 – 1800 M).
g.
Penjajahan Barat atas dunia
Islam dan perjuangan kemerdekaan Negara-negara Islam.
h.
Kedatangan Islam di
Indonesia dan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia.
Melihat
gambaran di atas masih banyak lagi fase-fase lain yang di tulis kalangan
sejarawan namun periode-periode ini sudah dapat memberi batasan terhadap
pemahaman kita pada sejarah islam. Pada pembahasan kali ini hanya akan dibatasi
pada masa klasik yaitu mulai dari zaman Kota Mekkah sebelum menjadi Islam
sekitar abad ke 6 M sampai abad ke-12 M dan zaman pertengahan di awal abad ke
13 – 15 M serta pada zaman modern pada abad ke 15 – 18 M atau sampai zaman
sekarangan ini karena pembahasan SPI diikat oleh ruang dan waktu maka kajiannya
dapat fleksibel untuk melihat proses peristiwa di era dulu dengan memandang di
era sekarang.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Sejarah
peradaban islam diartikan sebagai perekembangan atau kemajuan kebudayaan islam
dalam perspektif sejarahnya. Peradaban Islam adalah terjemahan dari kata
Arab Al-Hadharah Al-Islamiyyah. Kata dalam bahasa Arab ini sering
kita terjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan kebudayaan Islam.Di Indonesia
seringkali disinonimkan dua kata antara “ kebudayaan dan peradaban “. Namun
dalam perkembangan ilmu Antropologi sekarang, kedua istilah tersebut telah
dibedakan.
Kebudayaan
adalah bentuk ungkapan tentang semangat mendalam suatu masyarakat. Sedangkan
peradaban lebih berkaitan Manifestasi-manifestasi kemajuan mekanis dan
teknologis. Kebudayaan lebih direflesasikan dalam seni, sastra, religi, dan
moral. Sedangkan peradaban terefleksi dalam politik, ekonomi dan teknologi.
Periode sejarah peradaban
islam :
·
Periode Klasik
·
Periode Petengahan
·
Peride Modern
3.2 Saran
Belajar
dari masa lalu merupakan sesuatu yang perlu kita lakukan. Dari uraian di atas
kita dapat mengambil pelajaran bahwa kita harus berusaha dengan maksimal agar
bisa membuat perubahan. Di samping itu kita sebagai umat Islam juga harus bisa
menjaga persatuan dan kesatuan agar musuh-musuh Islam tidak bisa menghancurkan
kita.
DAFTAR
PUSTAKA
·
Louis Gottschalk, Mengerti
Sejarah, Terj. Nugroho Notosusanto. Jakarta : UI Press, 1986, hlm.27
·
Sartono Kartodirjo, Pendekatan
Ilmu sosial dalam Metodologi Sejarah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,
1993, hlm. 14 -15
·
Ibn Khaldun, Muqaddimah,
Terj Ahmadi Thoha, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1996, hlm. 3-13
·
Effat Ash-Sharqawi, Filsafat
Kebudayaan Islam. Bandung: Penerbit Pustaka, 1986, hlm.5
·
Koentjaraningrat, Kebudayaan:
Mentalitas dan Pembangunan, Jakarta: Gramedia, 1985,hlm.5
·
M. Natsir, Capita
Selecta, Bandung: N.V Penerbitan W. Van Hoeve, t.thn, hlm. 4
·
Ziauddin Sadar, Masa
Depan Peradaban Muslim, terj.H.M. Mochtar Zoerni, cet. 1, Surabaya: Bina
Ilmu, 1985
·
Ahmad Syalaby, Mauzu’ah
al-Tarikh al-Islamy I, Makkah : Nahdhah al-Mishriyah, 1974, hlm. 23-25
·
Harun Nasution, Pembaharuan
dalam Islam; Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Jakarta: BulanBintang, 1975,
hlm. 11-13
No comments:
Post a Comment
Sebaik-baiknya Manusia ialah yang meninggalkan jejak.
Krtitikan dan masukan anda bermanfaat bagi blog ini.