Saturday, December 26, 2015

Sejarah Peradaban Islam Pada Masa Bani Abbasiyah

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Pada masa Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Baghdad, Islam mencapai puncak keemasanya. Dalam wilayah dan pemerintahan Islam itu  banyak  berhimpun  suku-suku  bangsa  non-arab,  diantaranya  yang terbesar di Persia dan  Turki. Kota Baghdad didirikan oleh kalifah Abbasiyah kedua, al Manshur (754-755). Pada tahun 762M. Setelah mencari-cari daerah yang sekarang di namakan Baghdad, yang terletak di pinggir sungai Tigris. Al-Manshur menugaskan beberapa orang ahli untuk meneliti dan mempelajari lokasi yang akan dijadikan ibu kota. Setelah penelitian seksama itulah daerah ini ditetapkan sebagai ibu kota.
Pendirian kota Baghdad melambangkan upaya Abbasiyah untuk tetap berkuasa diatas berbagai permasalahan yang menimpa dan  bahkan telah menghancurkan dinasti Umayyah, untuk tetap berkuasa di tengah sejumlah problem tersebut, dinasti Abbasiyah menghilangkan supremasi kasta Arab dan menerapkan prinsip universalitas di kalangan  ummat muslim.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana periodesasi masa Abbasiyah?
2.      Apa saja kemajuan pada masa Abbasiyah?
3.      Apa saja penyebab kehancuran dinasti Abbasiyah?

C.    TUJUAN PENULISAN
1.      Menerangkan tentang periodisasi masa Abbasiyah
2.      Menerangkan beberapa kemajuan pada masa Abbasiyah
3.      Menerangkan penyebab-penyebab kehancuran dinasti Abbasiyah.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    PERIODESASI MASA ABBASIYAH
Para sejarawan mengklasifikasi periode Abbasiyah berbeda-beda. Al-Khudri, Guru Besar Ilmu Sejarah dari Universitas Mesir (Egyptian University) membagi ke dalam lima masa, yaitu:
1.      masa kuat-kuasa dan bekerja membangun, berjalan 100 tahun lama-nya, dari 132 s.d. 232 H.;
2.      masa berkuasanya panglima-panglima Turki, berjalan 100 tahun lama-nya, dari 232 s.d. 334 H.:
3.      masa berkuasanya Bani Buyah (Buwayhid), berjalan 100 tahun lama-nya. dari 334 s.d. 447 H.;
4.      masa berkuasanya Bani Saljuk (Seljuqiyak), berjalan 100 tahun lama-nya, dari 447 s.d. 530 H.;
5.      masa gerak balik kekuasaan politik khalifah-khalifah Abbasiyah dengan merajalelanya para panglima perang, selama 125 tahun, dari 530 H. sampai musnahnya Abbasiyah di bawah serbuan Jengiz Khan dan putranya Hulagu Khan dari Tartar pada tahun 656 H.
Menurut B.G. Stryzewki membagi masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah menjadi lima periode, yaitu:
1.      periode pertama (132 H./750 M. s.d. 232 H./847 M.), disebut periode pengaruh Persia Pertama;
2.      periode kedua (232 H./847 M. s.d. 334 H./945 M.), disebut periode pengaruh Turki Pertama;
3.      periode ketiga (334 H./945 M. s.d. 447 H./1105 M.), masa kekuasaan Dinasti Buwaihi dalam pemerintahan Khalifah Abbasiyah. Periode ini disebut juga pengaruh Persia Kedua;
4.      periode keempat (447 H./1105 M. s.d. 590 H./1195 M.), masa kekuasaan Dinasti Sajuk yang biasa disebut dengan masa pengaruh Turki Kedua;
5.      periode kelima (590 H./1194 M. s.d. 656 H./1258 M.), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di Baghdad.
Kedua pola periodesasi di atas, pada dasarnya sama dan tidak signifikan. Untuk memudahkan pembahasan, periode Abbasiyah dibagi menjadi empat tahap, yaitu pendirian, kemajuan, kemunduran, dan kehancuran.
B.     PENDIRIAN BANI ABBASIYAH (750-857 M./132-232 H.)
Babak ketiga dalam drama besar politik Islam dibuka oleh Abu Al-Abbas (750-754) berperan sebagai pelopor. Irak menjadi panggung drama besar itu. Dalam khotbah penobatannya, yang disampaikan setahun sebelumnya di masjid Kufah, Khalifah Abbasiyah pertama itu menyebut dirinya as-saffih, penumpah darah, yang kemudian menjadi julukannya. Julukan itu merupakan pertanda buruk karena dinasti yang baru muncul ini mengisyaratkan bahwa mereka lebih mengutamakan kekuatan dalam menjalankan kebijakannya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Islam, di sisi singgasana khalifah tergelar karpet yang digunakan sebagai tempat eksekusi. As-Saffah menjadi pendiri dinasti Arab Islam ketiga setelah Khulafa Ar-Rasyidin dan Dinasti Umayah yang sangat besar dan berusia lama. Dari 750 M. hingga 1258 M., penerus Abu Al-Abbas memegang pemerintahan, meskipun mereka tidak selalu berkuasa. Orang Abbasiyah mengklaim dirinya sebagai pengusung konsep sejati kekhalifahan, yaitu gagasan negara teokrasi, yang menggantikan pemerintahan sekuler (mulk) Dinasti Umayah. Sebagai ciri khas keagamaan dalam istana kerajaannya, dalam berbagai kesempatan seremonial, seperti ketika dinobatkan sebagai khalifah dan pada shalat Jumat, khalifah mengenakan jubah (burdah) yang pernah dikenakan oleh saudara sepupunya, Nabi Muhammad. Akan tetapi masa pemerintahannya, begitu singkat. As-Saffah meninggal (754-775 M.) karena penyakit cacar air ketika berusia 30-an.
Saudaranya yang juga penerusnya, Abu Ja'far (754-775), yang mendapat julukan Al-Manshur adalah khalifah terbesar Dinasti Abbasiyah. Meskipun bukan seorang muslim yang saleh, dialah sebenarnya, bukan As-Saffah, yang benar-benar membangun dinasti baru itu. Seluruh khalifah yang berjumlah 35 orang berasal dari garis keturunannya.
Masa kejayaan Abbasiyah terletak pada khalifah setelah As-Saffah. Penulis mengutip Philip K. Hitty, bahwa masa keemasan (Golden Prime) Abbasiyah terletak pada 10 khalifah. Hal ini berbeda dengan Badri Yatim, yang memasukkan 7 khalifah sebagai masa kejayaan Abbasiyah, Jaih Mubarok, memasukkan 8 khalifah sebagai masa kejayaan Abbasiyah. Begitu pula, Harun Nasution, hanya memasukkan 6 khalifah ke dalam kategori sebagai khalifah yang memajukan Abbasiyah.
Kesepuluh khalifah tersebut: As-Saffah (750); Al-Manshur (754); Al-Mahdi (775); Al-Hadi (785); Ar-Rasyid (786); Al-Amin (809): Al-Ma'mun (313); Al-Mu'tashim (833); Al-Watsiq (842); dan Al-Mutawakkil (847).
Dinasti Abbasiyah, seperti halnya dinasti lain dalam sejarah Islam, mencapai masa kejayaan politik dan intelektual mereka segera setelah didirikan. Kekhalifahan Baghdad yang didirikan oleh As-Saffah dan Al-Mashur mencapai masa keemasannya antara masa khalifah ketiga, Al-Mahdi, dan khalifah kesembilan, Al-Watsiq. dan lebih khusus lagi pada Harun Ar-Rasyid dan anaknya, Al-Ma’mun. Karena kehebatan dua khalifah itulah, Dinasti Abbasiyah memiliki kesan baik dalam ingatan publik, dan menjadi dinasti paling terkenal dalam sejarah Islam. Diktum yang dikutip oleh penulis antologi, Ats-Tsa'alabi (w. 1038) bahwa dari para khalifah Abbasiyah, “sang pembuka" adalah Al-Manshur, “sang pencegah" adalah Al-Ma'mun, dan "sang penutup” adalah Al-Mu'tadhid (892-902) adalah benar.


C.    KEMAJUAN MASA ABBASIYAH
Masa ini adalah masa keemasan atau masa kejayaan umat Islam sebagai pusat dunia dalam berbagai aspek peradaban. Kemajuan itu hampir mencakup semua aspek kehidupan:
1.      administratif pemerintahan dengan biro-bironya;
2.      system organisasi militer;
3.      administrasi wilayah pemerintahan;
4.      pertanian, perdagangan, dan industri;
5.      Islamisasi pemerintahan;
6.      kajian dalam bidang kedokteran, astronomi, matematika, geografi, historiografi, filsafat Islam, teologi, hukum (figh), dan etika islam, sastra, seni, dan penerjemahan;
7.      pendidikan, kesenian, arsitektur, meliputi pendidikan dasar (khuttab), menengah, dan perguruan tinggi; perpustakaan dan toko buku, media tulis, seni rupa, seni musik, dan arsitek.
Rincian berbagai kemajuan tersebut, dapat dilihat dari temuan Philip K. Hitti sebagai berikut.
1)      Biro-biro Pemerintahan Abbasiyah
Dalam menjalankan sistem teknis pemerintahan, Dinasti Abbasiyah memiliki kantor pengawas (dewan az-ziman) yang pertama kali diperkenalkan oleh Al-Mahdi; dewan korespondensi atau kantor arsip (dewan at-tawqi) yang menangani semua surat resmi, dokumen politik serta instruksi dan ketetapan khalifah; dewan penyelidik keluhan; departemen kepolisian dan pos. Dewan penyelidik keluhan (dewan an-nazhar fi al-mazhalini) adalah sejenis pengadilan tingkat banding, atau pengadilan tinggi untuk menangani kasus-kasus yang diputuskan secara keliru pada departemen administratif dan politik. Cikal bakal dewan ini dapat dilacak pada masa Dinasti Umayah, karena Al-Mawardi meriwayatkan bahwa Abd Al-Malik adalah khalifah pertama yang menyediakan satu hari khusus untuk mendengar secara langsung permohonan dan keluhan rakyatnya. Umar II meneruskan praktik tersebut. Praktik itu kemudian diperkenalkan oleh Al-Mahdi ke dalam pemerintahan Dinasti Abbasiyah. Penggantinya, Al-Hadi, Harun, Al-Ma'mun, dan khalifah selanjutnya menerima keluhan itu dalam sebuah dengar publik; Al-Muhtadi (869-870) adalah khalifah terakhir yang memelihara kebiasaan tersebut. Raja Normandia, Roger II (1130-1154) memperkenalkan lembaga tersebut ke Sisilia, yang kemudian mengakar di daratan Eropa.

2)      Sistem Militer
Sistem militer terorganisasi dengan baik, berdisiplin tinggi, serta mendapat pelatihan dan pengajaran secara reguler. Pasukan pengawal khalifah (hams) mungkin merupakan satu-satunya pasukan tetap yang mengepalai sekelompok pasukan. Selain mereka, ada juga pasukan bayaran dan sukarelawan, serta sejumlah pasukan dari berbagai suku dan distrik. Pasukan tetap (jund) yang bertugas aktif disebut murtaziqah (pasukan yang dibayar secara berkala oleh pemerintah). Unit pasukan lainnya disebut muta-thawwi 'ah (sukarelawan), yang hanya menerima gaji ketika bertugas. Kelompok sukarelawan ini direkrut dari orang badui, para petani, dan orang kota. Pasukan pengawal istana memperoleh bayaran lebih tinggi, bersenjata lengkap, dan berseragam. Pada masa-masa awal pemerintahan khalifah Dinasti Abbasiyah, rata-rata gaji pasukan infanteri, di samping gaji dan santunan rutin sekitar 960 dirham per tahun, pasukan kavaleri menerima dua kali lipat dari itu.

3)      Wilayah Pemerintahan
Pembagian wilayah kerajaan Umayah ke dalam provinsi yang dipimpin oleh seorang gubernur (tunggal amir atau amil) sama dengan pola pemerintahan pada kekuasaan Bizantium dan Persia. Pembagian ini tidak mengalami perubahan berarti pada masa Dinasti Abbasiyah. Provinsi Dinasti Abbasiyah mengalami perubahan dari masa ke masa, dan klasifikasi politik juga tidak selalu terkait dengan klasifikasi geografis, seperti yang terekam dalam karya Al-Ishthakhri, Ibn Hawqal, Ibn Al-Faqh, dan karya-karya sejenis. Berikut ini merupakan provinsi-provinsi utama pada masa awal kekhalifahan Baghdad: 1) Afrika di sebelah barat Gurun Libya bersama Sisilia; 2) Mesir; 3) Suriah dan Palestina, yang terkadang dipisahkan; 4) Hijaz dan Yamamah (Arab Tengah); 5) Yaman dan Arab Selatan; 6) Bahrain dan Oman, dengan Bashrah dan Irak sebagai ibukotanya; 7) Sawad atau Irak (Mesopotamia bawah), dengan kota utamanya setelah Baghdad, yaitu Kufah dan Wash; 8) Jazirah (yaitu kawasan Assyiria Kuno, bukan Semenanjung  Arab), dengan ibukota Mosul; 9) Azerbaijan, dengan kota-kota besarnya, seperti Ardabil, Tibriz, dan Maraghah; 10) Jibal (perbukitan, Media Kuno), kemudian dikenal dengan Irak Ajami (Iraknya orang Persia), dengan kota utamanya adalah Ramadan.
4)      Perdagangan dan Industri
Sejak masa khalifah kedua Abbasiyah, Al-Manshur, sumber Arab paling awal yang menyinggung tentang hubungan maritime Arab dan Persia dengan India dan Cina berasal dari laporan perjalanan Sulaiman At-Tajir dan para pedagang Muslim lainnya pada abad ke-3 Hijriah. Tulang punggung perdagangan ini adalah sutra, kontribusi terbesar orang Cina kepada dunia barat. Biasanya, jalur perdagangan yang disebut “jalan sutra ”, menyusuri Samarkand dan Turkistan Cina, sebuah wilayah yang kini tidak banyak dilalui dibanding wilayah dunia lainnya yang sudah dihuni dan berperadaban. Barang-barang dagangan biasanya diangkut secara estafet; hanya sedikit khafilah yang menempuh sendiri perjalanan sejauh itu. Akan tetapi, hubungan diplomatik telah dibangun sebelum orang Arab terjun ke dunia perdagangan. Diriwayatkan bahwa Sa’d Ibn Abi Waqqash, penakluk Persia, menjadi duta yang dikirim Nabi ke Cina. "Makam Sad masih bisa ditemukan di Kanton. Tulisan-tulisan tertentu pada monumen Cina lama tentang agama Islam di Cina jelas merupakan tulisan palsu yang dibuat oleh para tokoh agama. Pada pertengahan abad ke-8 telah dilakukan pertukaran duta. Dalam catatan Cina abad itu, kata amir al-muminin diucapkan dengan hanmi mo mo In oleh Abu Al-Abbas, khalifah Dinasti Abbasiyah pertama, A bo lo iba; dan Harun, A lun. Pada masa khalifah-khalifah itu terdapat sejumlah orang Islam yang menetap di Cina. Pada mulanya, orang Islam itu dikenal dengan sebutan Ta syih dan kemudian Hui Hui (pengikut Muhammad).
Di sebelah barat, para pedagang Islam telah mencapai Maroko dan Spanyol. Seribu tahun sebelum de Lesseps, Khalifah Harun mengemukakan gagasan tentang menggali kanal di sepanjang Ists-mus di Suez. Namun, perdagangan di Mediterania Arab tidak pernah mencapai kemajuan yang berarti. Laut Hitam juga tidak bisa mendukung perdagangan maritim, meskipun pada abad ke-10 telah dilakukan perdagangan singa melalui jalur darat ke utara dengan orang yang tinggal di kawasan Valda. Namun, karena jaraknya yang dekat dengan pusat kota Persia dan kota-kota makmur di Samarkand dan Bukhara, Laut Kaspia menjadi titik pertemuan dagang yang favorit. Para pedagang muslim membawa kurma, gula, kapas, dan kain wol, juga peralatan dari baja dan gelas.
Pada masa Abbasiyah, orang-orang justru mampu mengimpor seperti rempah-rempah, kapur barus, dan sutra dari kawasan Asia yang lebih jauh, juga mengimpor gading, kayu eboni, dan budak kulit hitam dari Afrika. Gambaran tentang jumlah keuntungan yang diperoleh Rothschild dan Rockefeller pada abad tersebut mungkin juga telah diraih oleh seorang penjual permata dari Baghdad, Ibn Al-Jashshash. yang tetap kaya meskipun Al-Muqtadir telah menyita hartanya sebesar 16 juta dinar, dan menjadi keluarga pertama yang dikenal sebagai pengusaha permata. Para pengusaha dari Bashrah yang membawa dagangannya dengan kapal laut ke berbagai negeri yang jauh. masing-masing membawa muatan yang bernilai lebih dari satu juta dirham. Seorang pemilik penggilingan di Bashrah dan Baghdad yang tidak berpendidikan mampu berderma untuk orang miskin sebesar seratus dinar per hari, dan kemudian diangkat oleh Al-Mu'tashim menjadi wazirnya.
Tingkat aktivitas perdagangan semacam itu didukung pula oleh pengembangan industri rumah tangga dan pertanian yang maju. Industri kerajinan tangan menjamur di berbagai pelosok kerajaan. Daerah Asia Barat menjadi pusat industri karpet, sutra. kapas, dan kain wol. satin dan brokat (dibaj), sofa (dari bahasa Arab, suffah) dan kain pembungkus bantal, juga perlengkapan dapur dan rumah tangga lainnya. Mesin penganyam Persia dan Irak membuat karpet dan kain berkualitas tinggi. Ibu Al-Musta'in memiliki sehelai karpet yang dipesan khusus seharga 130 juta dirham dengan corak berbagai jenis burung dari emas yang dihiasi batu nubi dan batu-batuan indah lainnya. Sebuah pusat industri di Baghdad yang namanya diambil dari nama seorang pangeran Umayyah, Attab, memberi merek kain buatannya denganattabi yang pertama kali dibuat di sana pada abad ke-12. Kain tersebut ditiru oleh perajin Arab di Spanyol, dan terkenal di Perancis, Italia, dan negara Eropa lainnya dengan nama tabi. Istilah tersebut kemudian berubah menjadi tabby, merujuk pada seekor kucing yang unik dan berwarna. Kufah memproduksi kain separuh sutra untuk penutup kepala yang masih digunakan dengan nama kuftyah. Tawwaj, Fasa, dan kota-kota lainnya di Paris memiliki sejumlah pabrik kelas satu yang membuat karpet, sulaman, brokat, dan gaun panjang untuk kalangan atas. Barang-barang semacam itu dikenal sebagai thiraz (dari bahasa Persia) yang memuat nama atau kode sultan.
5)      Perkembangan Bidang Pertanian
Bidang pertanian maju pesat pada awal pemerintahan Dinasti Abbasiyah karena pusat pemerintahannya berada di daerah yang sangat subur, di tepian sungai yang dikenal dengan nama Sawad. Pertanian merupakan sumber utama pemasukan negara dan pengolahan tanah hampir sepenuhnya oleh penduduk asli, yang statusnya mengalami peningkatan pada masa rezim baru. Lahan-lahan pertanian yang terlantar, dan desa-desa yang hancur di berbagai wilayah kerajaan diperbaiki dan dibangun kembali secara bertahap. Daerah rendah di lembah Tigris-Efrat, yang merupakan daerah terkaya setelah Mesir, dan dipandang sebagai surge Aden, mendapat perhatian khusus dari pemerintah pusat. Mereka membuka kembali saluran irigasi yang lama dari sungai Efrat, dan membuat saluran irigasi baru sehingga membentuk sebuah jaringan yang sempurna". Ada 113 Kanal besar pertama, yang disebut Nahr 'lsa setelah digali kembali oleh keluarga Al-Manshur, menghubungkan aliran sungai Efrat di Anbar sebelah barat laut dengan sungai Tigris di Baghdad. Salah satu cabang utama Nahr ‘Isa adalah Sharah. Kanal terbesar kedua adalah Nahr Sharshar, yang bertemu dengan sungai Tigris di daerah Madain. Kanal ketiga adalah Nahr Al-Malik ("sungai raja"), yang tersambung ke sungai Tigris di bawah Madain. Di bawah dua sungai itu terdapat Nahr Kutsa dan Sharah Besar, yang mengairi sejumlah saluran. Kanal lainnya, Dujayl (sungai yang lebih kecil dari Diljah, Tigris), yang awalnya menghubungkan Tigris dengan Efrat, semakin dangkal pada abad ke-10. dan nama itu kemudian menjadi nama kanal baru berbentuk oval, yang merupakan cabang dari sungai Tigris di bawah Kadisiyah dan membuat beberapa cabang lain sebelum akhirnya bertemu kembali dengan sungai Tigris. Kanal lainnya yang kurang penting adalah Nahr Ash-Shilah yang digali di Wash oleh Al-Mahdi. Para ahli geografi Arab menyebutkan beberapa khalifah yang "menggali" atau “membuka saluran", yang dalam kebanyakan kasus, sebenarnya hanya menggali dan membuka kembali kanal-kanal yang pernah ada sebelumnya sejak masa Babilonia. Di Irak dan Mesir, yang dilakukan adalah mengaktifkan kembali jaringan kanal lama. Bahkan, sebelum Perang Dunia Pertama, Sir William Willcock yang ditugaskan oleh pemerintahan Utsmani untuk mengkaji persoalan irigasi di Irak, merekomendasikan untuk membuka lagi aliran sungai lama, daripada membangun kanal-kanal baru
Tanaman asli Irak terdiri atas gandum, padi, kurma, wijen, kapas, dan rami. Daerah yang sangat subur berada di bantaran tepian sungai ke selatan, Sawad, yang menumbuhkan berbagai jenis buah dan sayuran, yang tumbuh di daerah panas maupun dingin. Kacang, jeruk, tebu, terong, dan beragam bunga, seperti bunga mawar dan violet juga tumbuh subur.
6)      Islamisasi Masyarakat
Sebanyak 5.000 orang Kristen Banu Tanukh di dekat Alleppo mengikuti perintah Khalifah untuk masuk Islam. Proses konversi secara normal berjalan lebih gradual, damai, dan bersifat pasti. Kebanyakan konversi yang dilakukan oleh penduduk taklukan didorong oleh motif kepentingan individu, agar terhindar dari pajak dan sejumlah aturan lain yang membatasi, agar mendapat prestise social dan pengaruh politik, serta menikmati kebebasab dan keamanan yang lebih besar. Penduduk Persia baru beralih ke agama Islam pada abad ketiga setelah wilayah ini dikuasai Islam.
7)      Bidang Kedokteran
Dari tulisan Ibn Maskawayh, kita mendapatkan sebuah risalah sistematik berbahasa Arab paling tua tentang optalmologi. Belakangan ini, sebuah buku berjudul Al-Asyr Maqalat fi Al-Ayn (Sepuluh Risalah tentang Mata) yang dianggap sebagai karya muridnya, Hunayn ibn Ishaq, telah diterbitkan dalam bahasa Inggris  sebagai buku teks tentang optalmologi paling awal yang kita miliki. Minat orang Arab terhadap ilmu kedokteran diilhami oleh hadis Nabi yang membagi pengetahuan ke dalam dua kelompok: teologi dan kedokteran. Dengan demikian, seorang dokter sekaligus merupakan seorang teolog.
Ali ibn Al-Abbas (Haly Abbas, w. 994), yang awalnya menganut ajaran Zoroaster, sebagaimana terlihat dari namanya, Al-Majusi, dikenal sebagai penulis buku Al-Kitab Al-Maliki (buku raja, Liber regius), yang ia tulis untuk Raja Buwayhi, Adhud Ad-Dawlah Fanna Khusraw. Yang memerintah antara 949 hingga 983, Karya ini yang disebut juga Kamil Ash-Shind’ah Ath-Thibbyah, sebuah kamus penting yang meliputi pengetahuan dan praktik kedokteran”.
Nama paling terkenal dalam catatan kedokteran Arab setelah Ar-Razi adalah Ibn Sina (Avicenna, masuk ke bahasa Latin melalui bahasa Ibrani, Aven Sina, 980-1037), yang disebut oleh orang Arab sebagai Asy-Syaikh Ar-Ra’is,  "pemimpin" (orang terpelajar) dan pangeran" (para pejabat). Ar-Razi lebih menguasai kedokteran daripada Ibn Sina, sedangkan Ibn Sina lebih menguasai filsafat daripada Ar-Razi. Dalam diri seorang dokter, filosof dan penyair inilah, ilmu pengetahuan Arab mencapai titik puncaknya dan berinkarnasi.
8)      Pendidikan, Perpustakaan, dan Toko Buku
Lembaga pendidikan Islam pertama untuk pengajaran yang lebih tinggi tingkatannya adalah Bait Al-Hikmah {Rumah Kebijakan) yang didirikan oleh Al-Ma'mun (830 M.) di Baghdad, ibukota negara. Selain berfungsi sebagai biro penerjemahan. lembaga ini juga dikenal sebagai kajian akademis dan perpustakaan umum, serta memiliki sebuah observatorium. Pada saat itu, observatorium-observatorium yang banyak bermunculan juga berfungsi sebagai pusat-pusat pembelajaran astronomi. Fungsi lembaga itu persis sama dengan rumah sakit, pada awal kemunculannya sekaligus berfungsi sebagai pusat pendidikan kedokteran. Akan tetapi, akademi Islam pertama yang menyediakan berbagai kebutuhan fisik untuk mahasiswanya, dan menjadi model bagi pembangunan akademi-akademi lainnya adalah Nizhamiyah yang didirikan pada tahun 1061-1067 oleh Nizam Al-Mulk, seorang menteri dari Persia pada kekhalifahan Bani saljuk, Sultan Alp Arslan, Malkyah, yang juga merupakan penyokong Umar Al-Khayyam. Dinasti Saljuk, sebagaimana Dinasti Buwaihiyah dan sultan-sultan non-Arab lainnya yang mengemban kekuasaan besar atas kehidupan umat islam, bersaing satu sama lain dalam hal pengembangan seni dan pendidika yang lebih tinggi.
D.    KEMUNDURAN DINASTI ABBASIYAH
Faktor-faktor Penyebab Kemunduran
1.      Faktor intern
a)      Kemewahan hidup di kalangan penguasa
Perkembangan peradaban dan kebudayaan serta kemajuan besar yang dicapai Dinasti Abbasiyah pada periode pertama telah mendorong para penguasa untuk hidup mewah, bahkan cenderung mencolok. Setiap khalifah cenderung ingin lebih mewah daripada pendahulunya. Kondisi ini memberi peluang kepada tentara profesional asal Turki untuk mengambil alih kendali pemerintahan.
b)      Perebutan kekuasaan antara keluarga Bani Abbasiyah
Perebutan kekuasaan dimulai sejak masa Al-Mamun dengan Al-Amin. Ditambah dengan masuknya unsur Turki dan Parsi. Setelah Al-Mutawakkil wafat, pergantian khalifah terjadi secara tidak wajar. Dari kedua belas khalifah pada periode kedua Dinasti Abbasiyah, hanya empat orang khalifah yang wafat dengan wajar. Selebihnya, para khalifah itu wafat karena dibunuh atau diracun dan diturunkan secara paksa.
c)      Konflik keagamaan
Sejak terjadinya konflik antara Muawiyah dan Khalifah Ali yang berakhir dengan lahirnya tiga kelompok umat: pengikut Muawiyah, Syi’ah, dan Khawarij, ketiga kelompok ini senantiasa berebut pengaruh. Yang senantiasa berpengaruh pada masa kekhalifahan Muawiyah maupun masa kekhalifahan Abbasiyah adalah kelompok Sunni dan kelompok Syi'ah. Walupun pada masa-masa tertentu antara kelompok Sunni dan Syi'ah saling mendukung. misalnya pada masa pemerintahan Buwaihi, antara kedua kelompok tak pernah ada satu kesepakatan.
2.      Faktor ekstern
a)      Banyaknya pemberontakan
Banyaknya daerah yang tidak dikuasai oleh khalifah, akibat kebijakan yang lebih menekankan pada pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam, secara real, daerah-daerah itu berada di bawah kekuasaan gubernur-gubernur yang bersangkutan. Akibatnya, provinsi-provinsi tersebut banyak yang melepaskan diri dari genggaman penguasa Bani Abbas. Adapun cara provinsi tersebut melepaskan diri dari kekuasaan Baghdad adalah: Pertama, seorang pemimpin lokal memimpin suatu pemberontakan dan berhasil memperoleh kemerdekaan penuh, seperti Daulah Umayah di Spanyol dan Idrisiyah di Maroko. Kedua, seseorang ditunjuk menjadi gubernur yang oleh khalifah, kedudukannya semakin bertambah kuat, kemudian melepaskan diri. seperti daulat Aglabiyah di Tunisia dan Thahiriyah di Kurasan.
b)      Dominasi Bangsa Turki
Sejak abad kesembilan, kekuatan militer Abbasiyah mulai mengalami kemunduran. Sebagai gantinya, para penguasa Abbasiyah mempekerjakan orang-orang profesional di bidang kemiliteran, khususnya tentara Turki, kemudian mengangkatnya menjadi panglima-panglima. Pengangkatan anggota militer inilah, dalam perkembangan selanjutnya, yang mengancam kekuasaan khalifah. Tentara Turki berhasil merebut kekuasaan tersebut. Walaupun khalifah dipegang oleh Bani Abbas, di tangan mereka, khalifah bagaikan boneka yang tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan, merekalah yang memilih dan menjatuhkan khalifah yang sesuai dengan politik mereka.
E.     SEBAB-SEBAB KEHANCURAN DINASTI ABBASIYAH
       I.      Faktor Intern
·         Lemahnya semangat patriotism Negara, menyebabkan jiwa jihad yang diajarkan Islam tidak berdaya lagi menahan segala amukan yang datang, baik dari dalam maupun luar.
·         Hilangnya sifat amanah dalam segala perjanjian yang dibuat, sehingga kerusakan moral dan kerendahan budi menghancurkan sifat-sifat baik yang mendukung Negara selama ini.
·         Tidak percaya pada kekuatan sendiri. Dalam mengatasi berbagai pemberontakan, khalifah mengundang kekuatan asing. Akibatnya kekuatan asing tersebut memanfaatkan kelemahan khalifah.
·         Fanatik madzhab persaingan dan perebutan yag tiada henti antara Abbasiyah dan Alawiyah menyebabkan kekuatan umat islam menjadi lemah, bahkan hancur berkeping-keping.
·         Kemerosotan ekonomi terjadi karena banyaknya biaya yang digunakan untuk anggaran tentara. Selain itu, karena banyaknya pemberontakan dan kebiasaan para penguasa untuk berfoya-foya.
    II.      Faktor Ekstern
Disintegrasi, akibat kebijakan untuk lebih mengutamakan pembinaan peradaban dan kebudayaan islam daripada politik, provinsi-provinsi tertentu dipinggiran mulai melepaskan dari genggaman penguasa Bani Abbasiyah. Mereka bukan sekedar memisahkan diri dari kekuasaan khalifah, tetapi memberontak dan berusaha merebut pusat kekuasaan Baghdad. Hal ini dimanfaatkan oleh pihak luar dan banyak mengorbankan umat, yang berarti juga menghancurkan Sumber Daya Manusia (SDM).



BAB III
PENUTUP

3.1    KESIMPULAN
Perkembangan peradaban Islam pada masa kejayaan di Baghdad yang dibawah kepemimpinan khalifah Al-Mansur dan mencapai puncaknya pada zaman khalifah Harun Ar-Rasyid pada tahu 786-809 M dengan putranya Al-Ma’mun. Pada tahun 813-833 yang mana kejayaan yang mereka miliki dimanfaatkan untuk keperluan sosial, rumah sakit, lembaga pendidikan, dokter dan farmasi. Pada masa Abbasiyah, bidang kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusastraan berada pada zaman keemasan.



DAFTAR PUSTAKA

·         Al-Din, Burhan, Jazirat- Arab al-Islam, Beirut: t. p. 1989
·         Asy Syarkowi, Abdurrahman, Muhammad Sang Pembebas, Yogyakarta: Mitra Pustaka 2003
·         R A A, Nicholson, A Literary History of The Arabs, Cambridge : Cambridge University Perss 1997
·         Sa’id Romadhan al-Buthy, Muhammad, Sirah Nabawiyah, Jakarta: Robbani Press cet 11 2006
·         Yatim Badri, Sejarah Peradaban Islam , Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada 2008
·         Ibrahim, Hasan. 1989. Sejarah dan Kebudayaan Islam. Bandung : Pustaka Yogyakarta.
·         Nasution, Harun. 1985 Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. Jakarta : UI Press.
·         Supriadi, Dedi. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Bandung : Pustaka Setia.


No comments:

Post a Comment

Sebaik-baiknya Manusia ialah yang meninggalkan jejak.

Krtitikan dan masukan anda bermanfaat bagi blog ini.